Instagram Logo

serius_black

Christofhel Bambungan

10
posts
1.3K
followers
1.3K
following

"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago


"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago

"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago

"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago

"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago

"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago

"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago

"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago


"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago

"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago

"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago

"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago

"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago

"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago

"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago


"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago

"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago

"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago

"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago

"Gelap, Terang, Menang"
Siluet hitam di atas panggung, warna-warni pecah di kepala.
@jasonranti x @baladagehel benar-benar kombinasi yang berbahaya bagi ketenangan telinga.
Berisik yang cantik.

Manado, 21 november 2025.
@timelesslive.ent


80
5
4 months ago

Manado, 25 Januari 2025
disekitaran pasar 45 ato orang manado ja bilang bendar
sore itu bafoto deng mas @yulianusladung


76
2
8 months ago


Manado, 25 Januari 2025
disekitaran pasar 45 ato orang manado ja bilang bendar
sore itu bafoto deng mas @yulianusladung


76
2
8 months ago

Manado, 25 Januari 2025
disekitaran pasar 45 ato orang manado ja bilang bendar
sore itu bafoto deng mas @yulianusladung


76
2
8 months ago

Manado, 25 Januari 2025
disekitaran pasar 45 ato orang manado ja bilang bendar
sore itu bafoto deng mas @yulianusladung


76
2
8 months ago

Manado, 25 Januari 2025
disekitaran pasar 45 ato orang manado ja bilang bendar
sore itu bafoto deng mas @yulianusladung


76
2
8 months ago

Manado, 25 Januari 2025
disekitaran pasar 45 ato orang manado ja bilang bendar
sore itu bafoto deng mas @yulianusladung


76
2
8 months ago

Manado, 25 Januari 2025
disekitaran pasar 45 ato orang manado ja bilang bendar
sore itu bafoto deng mas @yulianusladung


76
2
8 months ago

Manado, 25 Januari 2025
disekitaran pasar 45 ato orang manado ja bilang bendar
sore itu bafoto deng mas @yulianusladung


76
2
8 months ago

Manado, 25 Januari 2025
disekitaran pasar 45 ato orang manado ja bilang bendar
sore itu bafoto deng mas @yulianusladung


76
2
8 months ago

Manado, 25 Januari 2025
disekitaran pasar 45 ato orang manado ja bilang bendar
sore itu bafoto deng mas @yulianusladung


76
2
8 months ago

Seperti berkejaran dengan senja petang itu, Mega dan kawan-kawannya sibuk menyiapkan gerai mereka sekaligus menerima pesanan dari pelanggan yang mulai berdatangan untuk menikmati teduhnya senja sambil ngopi di bibir teluk Manado.

Aku bukan penggila kopi, tapi ga afdol rasanya kalau dalam sehari belum ngopi. Entah ngopi yang serius (kalau ada kawan yang paham dalam memilih jenis kopi atau artisan) atau ngopi sekedarnya, pokoknya yang penting ngopi.

Laporan bertajuk ”Indonesia Coffee Annual” oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang aku kutip dari Harian Kompas menyebutkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan akan meningkat sebesar 10.000 kantong. Dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada tahun ini. Satu kantong kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.

Mungkin laporan itu benar. Karena dalam hiruk pikuk kota-kota besar, hingga pelosok seperti Agats di pesisir selatan Papua, Waghete di pegunungan tengah Papua, pelosok pulau Sedanau di laut Natuna utara atau hulu sungai Mahakam di pedalaman Kaliamantan Timur, bisa dengan mudah ditemukan gerai-gerai yang menawarkan sajian kopi lengkap dengan pernak-perniknya.

Kopi memang tidak sekedar minuman, karena dari kopi banyak cerita yang bisa kita rangkum. Sama seperti dinding rumah sakit atau lantai airport yang kerap jadi saksi seloroh sedih, gusar, senang atau pengalaman tawa, bahagia dan juga isak tangis yang tidak terhitung banyaknya.

Seperti petang itu, aku, Tia, Tito dan Sendy menikmati senja di ujung mega teluk Manado yang manis.

Jadi kamu sudah ngopi belum hari ini 🤓

#visualstorytelling #visualstoryteller


538
7
1 years ago

Seperti berkejaran dengan senja petang itu, Mega dan kawan-kawannya sibuk menyiapkan gerai mereka sekaligus menerima pesanan dari pelanggan yang mulai berdatangan untuk menikmati teduhnya senja sambil ngopi di bibir teluk Manado.

Aku bukan penggila kopi, tapi ga afdol rasanya kalau dalam sehari belum ngopi. Entah ngopi yang serius (kalau ada kawan yang paham dalam memilih jenis kopi atau artisan) atau ngopi sekedarnya, pokoknya yang penting ngopi.

Laporan bertajuk ”Indonesia Coffee Annual” oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang aku kutip dari Harian Kompas menyebutkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan akan meningkat sebesar 10.000 kantong. Dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada tahun ini. Satu kantong kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.

Mungkin laporan itu benar. Karena dalam hiruk pikuk kota-kota besar, hingga pelosok seperti Agats di pesisir selatan Papua, Waghete di pegunungan tengah Papua, pelosok pulau Sedanau di laut Natuna utara atau hulu sungai Mahakam di pedalaman Kaliamantan Timur, bisa dengan mudah ditemukan gerai-gerai yang menawarkan sajian kopi lengkap dengan pernak-perniknya.

Kopi memang tidak sekedar minuman, karena dari kopi banyak cerita yang bisa kita rangkum. Sama seperti dinding rumah sakit atau lantai airport yang kerap jadi saksi seloroh sedih, gusar, senang atau pengalaman tawa, bahagia dan juga isak tangis yang tidak terhitung banyaknya.

Seperti petang itu, aku, Tia, Tito dan Sendy menikmati senja di ujung mega teluk Manado yang manis.

Jadi kamu sudah ngopi belum hari ini 🤓

#visualstorytelling #visualstoryteller


538
7
1 years ago

Seperti berkejaran dengan senja petang itu, Mega dan kawan-kawannya sibuk menyiapkan gerai mereka sekaligus menerima pesanan dari pelanggan yang mulai berdatangan untuk menikmati teduhnya senja sambil ngopi di bibir teluk Manado.

Aku bukan penggila kopi, tapi ga afdol rasanya kalau dalam sehari belum ngopi. Entah ngopi yang serius (kalau ada kawan yang paham dalam memilih jenis kopi atau artisan) atau ngopi sekedarnya, pokoknya yang penting ngopi.

Laporan bertajuk ”Indonesia Coffee Annual” oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang aku kutip dari Harian Kompas menyebutkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan akan meningkat sebesar 10.000 kantong. Dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada tahun ini. Satu kantong kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.

Mungkin laporan itu benar. Karena dalam hiruk pikuk kota-kota besar, hingga pelosok seperti Agats di pesisir selatan Papua, Waghete di pegunungan tengah Papua, pelosok pulau Sedanau di laut Natuna utara atau hulu sungai Mahakam di pedalaman Kaliamantan Timur, bisa dengan mudah ditemukan gerai-gerai yang menawarkan sajian kopi lengkap dengan pernak-perniknya.

Kopi memang tidak sekedar minuman, karena dari kopi banyak cerita yang bisa kita rangkum. Sama seperti dinding rumah sakit atau lantai airport yang kerap jadi saksi seloroh sedih, gusar, senang atau pengalaman tawa, bahagia dan juga isak tangis yang tidak terhitung banyaknya.

Seperti petang itu, aku, Tia, Tito dan Sendy menikmati senja di ujung mega teluk Manado yang manis.

Jadi kamu sudah ngopi belum hari ini 🤓

#visualstorytelling #visualstoryteller


538
7
1 years ago

Seperti berkejaran dengan senja petang itu, Mega dan kawan-kawannya sibuk menyiapkan gerai mereka sekaligus menerima pesanan dari pelanggan yang mulai berdatangan untuk menikmati teduhnya senja sambil ngopi di bibir teluk Manado.

Aku bukan penggila kopi, tapi ga afdol rasanya kalau dalam sehari belum ngopi. Entah ngopi yang serius (kalau ada kawan yang paham dalam memilih jenis kopi atau artisan) atau ngopi sekedarnya, pokoknya yang penting ngopi.

Laporan bertajuk ”Indonesia Coffee Annual” oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang aku kutip dari Harian Kompas menyebutkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan akan meningkat sebesar 10.000 kantong. Dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada tahun ini. Satu kantong kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.

Mungkin laporan itu benar. Karena dalam hiruk pikuk kota-kota besar, hingga pelosok seperti Agats di pesisir selatan Papua, Waghete di pegunungan tengah Papua, pelosok pulau Sedanau di laut Natuna utara atau hulu sungai Mahakam di pedalaman Kaliamantan Timur, bisa dengan mudah ditemukan gerai-gerai yang menawarkan sajian kopi lengkap dengan pernak-perniknya.

Kopi memang tidak sekedar minuman, karena dari kopi banyak cerita yang bisa kita rangkum. Sama seperti dinding rumah sakit atau lantai airport yang kerap jadi saksi seloroh sedih, gusar, senang atau pengalaman tawa, bahagia dan juga isak tangis yang tidak terhitung banyaknya.

Seperti petang itu, aku, Tia, Tito dan Sendy menikmati senja di ujung mega teluk Manado yang manis.

Jadi kamu sudah ngopi belum hari ini 🤓

#visualstorytelling #visualstoryteller


538
7
1 years ago

Seperti berkejaran dengan senja petang itu, Mega dan kawan-kawannya sibuk menyiapkan gerai mereka sekaligus menerima pesanan dari pelanggan yang mulai berdatangan untuk menikmati teduhnya senja sambil ngopi di bibir teluk Manado.

Aku bukan penggila kopi, tapi ga afdol rasanya kalau dalam sehari belum ngopi. Entah ngopi yang serius (kalau ada kawan yang paham dalam memilih jenis kopi atau artisan) atau ngopi sekedarnya, pokoknya yang penting ngopi.

Laporan bertajuk ”Indonesia Coffee Annual” oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang aku kutip dari Harian Kompas menyebutkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan akan meningkat sebesar 10.000 kantong. Dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada tahun ini. Satu kantong kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.

Mungkin laporan itu benar. Karena dalam hiruk pikuk kota-kota besar, hingga pelosok seperti Agats di pesisir selatan Papua, Waghete di pegunungan tengah Papua, pelosok pulau Sedanau di laut Natuna utara atau hulu sungai Mahakam di pedalaman Kaliamantan Timur, bisa dengan mudah ditemukan gerai-gerai yang menawarkan sajian kopi lengkap dengan pernak-perniknya.

Kopi memang tidak sekedar minuman, karena dari kopi banyak cerita yang bisa kita rangkum. Sama seperti dinding rumah sakit atau lantai airport yang kerap jadi saksi seloroh sedih, gusar, senang atau pengalaman tawa, bahagia dan juga isak tangis yang tidak terhitung banyaknya.

Seperti petang itu, aku, Tia, Tito dan Sendy menikmati senja di ujung mega teluk Manado yang manis.

Jadi kamu sudah ngopi belum hari ini 🤓

#visualstorytelling #visualstoryteller


538
7
1 years ago

Seperti berkejaran dengan senja petang itu, Mega dan kawan-kawannya sibuk menyiapkan gerai mereka sekaligus menerima pesanan dari pelanggan yang mulai berdatangan untuk menikmati teduhnya senja sambil ngopi di bibir teluk Manado.

Aku bukan penggila kopi, tapi ga afdol rasanya kalau dalam sehari belum ngopi. Entah ngopi yang serius (kalau ada kawan yang paham dalam memilih jenis kopi atau artisan) atau ngopi sekedarnya, pokoknya yang penting ngopi.

Laporan bertajuk ”Indonesia Coffee Annual” oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang aku kutip dari Harian Kompas menyebutkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan akan meningkat sebesar 10.000 kantong. Dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada tahun ini. Satu kantong kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.

Mungkin laporan itu benar. Karena dalam hiruk pikuk kota-kota besar, hingga pelosok seperti Agats di pesisir selatan Papua, Waghete di pegunungan tengah Papua, pelosok pulau Sedanau di laut Natuna utara atau hulu sungai Mahakam di pedalaman Kaliamantan Timur, bisa dengan mudah ditemukan gerai-gerai yang menawarkan sajian kopi lengkap dengan pernak-perniknya.

Kopi memang tidak sekedar minuman, karena dari kopi banyak cerita yang bisa kita rangkum. Sama seperti dinding rumah sakit atau lantai airport yang kerap jadi saksi seloroh sedih, gusar, senang atau pengalaman tawa, bahagia dan juga isak tangis yang tidak terhitung banyaknya.

Seperti petang itu, aku, Tia, Tito dan Sendy menikmati senja di ujung mega teluk Manado yang manis.

Jadi kamu sudah ngopi belum hari ini 🤓

#visualstorytelling #visualstoryteller


538
7
1 years ago

Seperti berkejaran dengan senja petang itu, Mega dan kawan-kawannya sibuk menyiapkan gerai mereka sekaligus menerima pesanan dari pelanggan yang mulai berdatangan untuk menikmati teduhnya senja sambil ngopi di bibir teluk Manado.

Aku bukan penggila kopi, tapi ga afdol rasanya kalau dalam sehari belum ngopi. Entah ngopi yang serius (kalau ada kawan yang paham dalam memilih jenis kopi atau artisan) atau ngopi sekedarnya, pokoknya yang penting ngopi.

Laporan bertajuk ”Indonesia Coffee Annual” oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang aku kutip dari Harian Kompas menyebutkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan akan meningkat sebesar 10.000 kantong. Dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada tahun ini. Satu kantong kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.

Mungkin laporan itu benar. Karena dalam hiruk pikuk kota-kota besar, hingga pelosok seperti Agats di pesisir selatan Papua, Waghete di pegunungan tengah Papua, pelosok pulau Sedanau di laut Natuna utara atau hulu sungai Mahakam di pedalaman Kaliamantan Timur, bisa dengan mudah ditemukan gerai-gerai yang menawarkan sajian kopi lengkap dengan pernak-perniknya.

Kopi memang tidak sekedar minuman, karena dari kopi banyak cerita yang bisa kita rangkum. Sama seperti dinding rumah sakit atau lantai airport yang kerap jadi saksi seloroh sedih, gusar, senang atau pengalaman tawa, bahagia dan juga isak tangis yang tidak terhitung banyaknya.

Seperti petang itu, aku, Tia, Tito dan Sendy menikmati senja di ujung mega teluk Manado yang manis.

Jadi kamu sudah ngopi belum hari ini 🤓

#visualstorytelling #visualstoryteller


538
7
1 years ago

Seperti berkejaran dengan senja petang itu, Mega dan kawan-kawannya sibuk menyiapkan gerai mereka sekaligus menerima pesanan dari pelanggan yang mulai berdatangan untuk menikmati teduhnya senja sambil ngopi di bibir teluk Manado.

Aku bukan penggila kopi, tapi ga afdol rasanya kalau dalam sehari belum ngopi. Entah ngopi yang serius (kalau ada kawan yang paham dalam memilih jenis kopi atau artisan) atau ngopi sekedarnya, pokoknya yang penting ngopi.

Laporan bertajuk ”Indonesia Coffee Annual” oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang aku kutip dari Harian Kompas menyebutkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan akan meningkat sebesar 10.000 kantong. Dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada tahun ini. Satu kantong kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.

Mungkin laporan itu benar. Karena dalam hiruk pikuk kota-kota besar, hingga pelosok seperti Agats di pesisir selatan Papua, Waghete di pegunungan tengah Papua, pelosok pulau Sedanau di laut Natuna utara atau hulu sungai Mahakam di pedalaman Kaliamantan Timur, bisa dengan mudah ditemukan gerai-gerai yang menawarkan sajian kopi lengkap dengan pernak-perniknya.

Kopi memang tidak sekedar minuman, karena dari kopi banyak cerita yang bisa kita rangkum. Sama seperti dinding rumah sakit atau lantai airport yang kerap jadi saksi seloroh sedih, gusar, senang atau pengalaman tawa, bahagia dan juga isak tangis yang tidak terhitung banyaknya.

Seperti petang itu, aku, Tia, Tito dan Sendy menikmati senja di ujung mega teluk Manado yang manis.

Jadi kamu sudah ngopi belum hari ini 🤓

#visualstorytelling #visualstoryteller


538
7
1 years ago

Seperti berkejaran dengan senja petang itu, Mega dan kawan-kawannya sibuk menyiapkan gerai mereka sekaligus menerima pesanan dari pelanggan yang mulai berdatangan untuk menikmati teduhnya senja sambil ngopi di bibir teluk Manado.

Aku bukan penggila kopi, tapi ga afdol rasanya kalau dalam sehari belum ngopi. Entah ngopi yang serius (kalau ada kawan yang paham dalam memilih jenis kopi atau artisan) atau ngopi sekedarnya, pokoknya yang penting ngopi.

Laporan bertajuk ”Indonesia Coffee Annual” oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang aku kutip dari Harian Kompas menyebutkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan akan meningkat sebesar 10.000 kantong. Dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada tahun ini. Satu kantong kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.

Mungkin laporan itu benar. Karena dalam hiruk pikuk kota-kota besar, hingga pelosok seperti Agats di pesisir selatan Papua, Waghete di pegunungan tengah Papua, pelosok pulau Sedanau di laut Natuna utara atau hulu sungai Mahakam di pedalaman Kaliamantan Timur, bisa dengan mudah ditemukan gerai-gerai yang menawarkan sajian kopi lengkap dengan pernak-perniknya.

Kopi memang tidak sekedar minuman, karena dari kopi banyak cerita yang bisa kita rangkum. Sama seperti dinding rumah sakit atau lantai airport yang kerap jadi saksi seloroh sedih, gusar, senang atau pengalaman tawa, bahagia dan juga isak tangis yang tidak terhitung banyaknya.

Seperti petang itu, aku, Tia, Tito dan Sendy menikmati senja di ujung mega teluk Manado yang manis.

Jadi kamu sudah ngopi belum hari ini 🤓

#visualstorytelling #visualstoryteller


538
7
1 years ago

Seperti berkejaran dengan senja petang itu, Mega dan kawan-kawannya sibuk menyiapkan gerai mereka sekaligus menerima pesanan dari pelanggan yang mulai berdatangan untuk menikmati teduhnya senja sambil ngopi di bibir teluk Manado.

Aku bukan penggila kopi, tapi ga afdol rasanya kalau dalam sehari belum ngopi. Entah ngopi yang serius (kalau ada kawan yang paham dalam memilih jenis kopi atau artisan) atau ngopi sekedarnya, pokoknya yang penting ngopi.

Laporan bertajuk ”Indonesia Coffee Annual” oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang aku kutip dari Harian Kompas menyebutkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan akan meningkat sebesar 10.000 kantong. Dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada tahun ini. Satu kantong kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.

Mungkin laporan itu benar. Karena dalam hiruk pikuk kota-kota besar, hingga pelosok seperti Agats di pesisir selatan Papua, Waghete di pegunungan tengah Papua, pelosok pulau Sedanau di laut Natuna utara atau hulu sungai Mahakam di pedalaman Kaliamantan Timur, bisa dengan mudah ditemukan gerai-gerai yang menawarkan sajian kopi lengkap dengan pernak-perniknya.

Kopi memang tidak sekedar minuman, karena dari kopi banyak cerita yang bisa kita rangkum. Sama seperti dinding rumah sakit atau lantai airport yang kerap jadi saksi seloroh sedih, gusar, senang atau pengalaman tawa, bahagia dan juga isak tangis yang tidak terhitung banyaknya.

Seperti petang itu, aku, Tia, Tito dan Sendy menikmati senja di ujung mega teluk Manado yang manis.

Jadi kamu sudah ngopi belum hari ini 🤓

#visualstorytelling #visualstoryteller


538
7
1 years ago

Seperti berkejaran dengan senja petang itu, Mega dan kawan-kawannya sibuk menyiapkan gerai mereka sekaligus menerima pesanan dari pelanggan yang mulai berdatangan untuk menikmati teduhnya senja sambil ngopi di bibir teluk Manado.

Aku bukan penggila kopi, tapi ga afdol rasanya kalau dalam sehari belum ngopi. Entah ngopi yang serius (kalau ada kawan yang paham dalam memilih jenis kopi atau artisan) atau ngopi sekedarnya, pokoknya yang penting ngopi.

Laporan bertajuk ”Indonesia Coffee Annual” oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang aku kutip dari Harian Kompas menyebutkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan akan meningkat sebesar 10.000 kantong. Dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada tahun ini. Satu kantong kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.

Mungkin laporan itu benar. Karena dalam hiruk pikuk kota-kota besar, hingga pelosok seperti Agats di pesisir selatan Papua, Waghete di pegunungan tengah Papua, pelosok pulau Sedanau di laut Natuna utara atau hulu sungai Mahakam di pedalaman Kaliamantan Timur, bisa dengan mudah ditemukan gerai-gerai yang menawarkan sajian kopi lengkap dengan pernak-perniknya.

Kopi memang tidak sekedar minuman, karena dari kopi banyak cerita yang bisa kita rangkum. Sama seperti dinding rumah sakit atau lantai airport yang kerap jadi saksi seloroh sedih, gusar, senang atau pengalaman tawa, bahagia dan juga isak tangis yang tidak terhitung banyaknya.

Seperti petang itu, aku, Tia, Tito dan Sendy menikmati senja di ujung mega teluk Manado yang manis.

Jadi kamu sudah ngopi belum hari ini 🤓

#visualstorytelling #visualstoryteller


538
7
1 years ago

Seperti berkejaran dengan senja petang itu, Mega dan kawan-kawannya sibuk menyiapkan gerai mereka sekaligus menerima pesanan dari pelanggan yang mulai berdatangan untuk menikmati teduhnya senja sambil ngopi di bibir teluk Manado.

Aku bukan penggila kopi, tapi ga afdol rasanya kalau dalam sehari belum ngopi. Entah ngopi yang serius (kalau ada kawan yang paham dalam memilih jenis kopi atau artisan) atau ngopi sekedarnya, pokoknya yang penting ngopi.

Laporan bertajuk ”Indonesia Coffee Annual” oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang aku kutip dari Harian Kompas menyebutkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan akan meningkat sebesar 10.000 kantong. Dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada tahun ini. Satu kantong kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.

Mungkin laporan itu benar. Karena dalam hiruk pikuk kota-kota besar, hingga pelosok seperti Agats di pesisir selatan Papua, Waghete di pegunungan tengah Papua, pelosok pulau Sedanau di laut Natuna utara atau hulu sungai Mahakam di pedalaman Kaliamantan Timur, bisa dengan mudah ditemukan gerai-gerai yang menawarkan sajian kopi lengkap dengan pernak-perniknya.

Kopi memang tidak sekedar minuman, karena dari kopi banyak cerita yang bisa kita rangkum. Sama seperti dinding rumah sakit atau lantai airport yang kerap jadi saksi seloroh sedih, gusar, senang atau pengalaman tawa, bahagia dan juga isak tangis yang tidak terhitung banyaknya.

Seperti petang itu, aku, Tia, Tito dan Sendy menikmati senja di ujung mega teluk Manado yang manis.

Jadi kamu sudah ngopi belum hari ini 🤓

#visualstorytelling #visualstoryteller


538
7
1 years ago

Seperti berkejaran dengan senja petang itu, Mega dan kawan-kawannya sibuk menyiapkan gerai mereka sekaligus menerima pesanan dari pelanggan yang mulai berdatangan untuk menikmati teduhnya senja sambil ngopi di bibir teluk Manado.

Aku bukan penggila kopi, tapi ga afdol rasanya kalau dalam sehari belum ngopi. Entah ngopi yang serius (kalau ada kawan yang paham dalam memilih jenis kopi atau artisan) atau ngopi sekedarnya, pokoknya yang penting ngopi.

Laporan bertajuk ”Indonesia Coffee Annual” oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang aku kutip dari Harian Kompas menyebutkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan akan meningkat sebesar 10.000 kantong. Dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada tahun ini. Satu kantong kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.

Mungkin laporan itu benar. Karena dalam hiruk pikuk kota-kota besar, hingga pelosok seperti Agats di pesisir selatan Papua, Waghete di pegunungan tengah Papua, pelosok pulau Sedanau di laut Natuna utara atau hulu sungai Mahakam di pedalaman Kaliamantan Timur, bisa dengan mudah ditemukan gerai-gerai yang menawarkan sajian kopi lengkap dengan pernak-perniknya.

Kopi memang tidak sekedar minuman, karena dari kopi banyak cerita yang bisa kita rangkum. Sama seperti dinding rumah sakit atau lantai airport yang kerap jadi saksi seloroh sedih, gusar, senang atau pengalaman tawa, bahagia dan juga isak tangis yang tidak terhitung banyaknya.

Seperti petang itu, aku, Tia, Tito dan Sendy menikmati senja di ujung mega teluk Manado yang manis.

Jadi kamu sudah ngopi belum hari ini 🤓

#visualstorytelling #visualstoryteller


538
7
1 years ago

Seperti berkejaran dengan senja petang itu, Mega dan kawan-kawannya sibuk menyiapkan gerai mereka sekaligus menerima pesanan dari pelanggan yang mulai berdatangan untuk menikmati teduhnya senja sambil ngopi di bibir teluk Manado.

Aku bukan penggila kopi, tapi ga afdol rasanya kalau dalam sehari belum ngopi. Entah ngopi yang serius (kalau ada kawan yang paham dalam memilih jenis kopi atau artisan) atau ngopi sekedarnya, pokoknya yang penting ngopi.

Laporan bertajuk ”Indonesia Coffee Annual” oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang aku kutip dari Harian Kompas menyebutkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan akan meningkat sebesar 10.000 kantong. Dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada tahun ini. Satu kantong kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.

Mungkin laporan itu benar. Karena dalam hiruk pikuk kota-kota besar, hingga pelosok seperti Agats di pesisir selatan Papua, Waghete di pegunungan tengah Papua, pelosok pulau Sedanau di laut Natuna utara atau hulu sungai Mahakam di pedalaman Kaliamantan Timur, bisa dengan mudah ditemukan gerai-gerai yang menawarkan sajian kopi lengkap dengan pernak-perniknya.

Kopi memang tidak sekedar minuman, karena dari kopi banyak cerita yang bisa kita rangkum. Sama seperti dinding rumah sakit atau lantai airport yang kerap jadi saksi seloroh sedih, gusar, senang atau pengalaman tawa, bahagia dan juga isak tangis yang tidak terhitung banyaknya.

Seperti petang itu, aku, Tia, Tito dan Sendy menikmati senja di ujung mega teluk Manado yang manis.

Jadi kamu sudah ngopi belum hari ini 🤓

#visualstorytelling #visualstoryteller


538
7
1 years ago

Seperti berkejaran dengan senja petang itu, Mega dan kawan-kawannya sibuk menyiapkan gerai mereka sekaligus menerima pesanan dari pelanggan yang mulai berdatangan untuk menikmati teduhnya senja sambil ngopi di bibir teluk Manado.

Aku bukan penggila kopi, tapi ga afdol rasanya kalau dalam sehari belum ngopi. Entah ngopi yang serius (kalau ada kawan yang paham dalam memilih jenis kopi atau artisan) atau ngopi sekedarnya, pokoknya yang penting ngopi.

Laporan bertajuk ”Indonesia Coffee Annual” oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang aku kutip dari Harian Kompas menyebutkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan akan meningkat sebesar 10.000 kantong. Dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada tahun ini. Satu kantong kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.

Mungkin laporan itu benar. Karena dalam hiruk pikuk kota-kota besar, hingga pelosok seperti Agats di pesisir selatan Papua, Waghete di pegunungan tengah Papua, pelosok pulau Sedanau di laut Natuna utara atau hulu sungai Mahakam di pedalaman Kaliamantan Timur, bisa dengan mudah ditemukan gerai-gerai yang menawarkan sajian kopi lengkap dengan pernak-perniknya.

Kopi memang tidak sekedar minuman, karena dari kopi banyak cerita yang bisa kita rangkum. Sama seperti dinding rumah sakit atau lantai airport yang kerap jadi saksi seloroh sedih, gusar, senang atau pengalaman tawa, bahagia dan juga isak tangis yang tidak terhitung banyaknya.

Seperti petang itu, aku, Tia, Tito dan Sendy menikmati senja di ujung mega teluk Manado yang manis.

Jadi kamu sudah ngopi belum hari ini 🤓

#visualstorytelling #visualstoryteller


538
7
1 years ago

Seperti berkejaran dengan senja petang itu, Mega dan kawan-kawannya sibuk menyiapkan gerai mereka sekaligus menerima pesanan dari pelanggan yang mulai berdatangan untuk menikmati teduhnya senja sambil ngopi di bibir teluk Manado.

Aku bukan penggila kopi, tapi ga afdol rasanya kalau dalam sehari belum ngopi. Entah ngopi yang serius (kalau ada kawan yang paham dalam memilih jenis kopi atau artisan) atau ngopi sekedarnya, pokoknya yang penting ngopi.

Laporan bertajuk ”Indonesia Coffee Annual” oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang aku kutip dari Harian Kompas menyebutkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan akan meningkat sebesar 10.000 kantong. Dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada tahun ini. Satu kantong kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.

Mungkin laporan itu benar. Karena dalam hiruk pikuk kota-kota besar, hingga pelosok seperti Agats di pesisir selatan Papua, Waghete di pegunungan tengah Papua, pelosok pulau Sedanau di laut Natuna utara atau hulu sungai Mahakam di pedalaman Kaliamantan Timur, bisa dengan mudah ditemukan gerai-gerai yang menawarkan sajian kopi lengkap dengan pernak-perniknya.

Kopi memang tidak sekedar minuman, karena dari kopi banyak cerita yang bisa kita rangkum. Sama seperti dinding rumah sakit atau lantai airport yang kerap jadi saksi seloroh sedih, gusar, senang atau pengalaman tawa, bahagia dan juga isak tangis yang tidak terhitung banyaknya.

Seperti petang itu, aku, Tia, Tito dan Sendy menikmati senja di ujung mega teluk Manado yang manis.

Jadi kamu sudah ngopi belum hari ini 🤓

#visualstorytelling #visualstoryteller


538
7
1 years ago

Seperti berkejaran dengan senja petang itu, Mega dan kawan-kawannya sibuk menyiapkan gerai mereka sekaligus menerima pesanan dari pelanggan yang mulai berdatangan untuk menikmati teduhnya senja sambil ngopi di bibir teluk Manado.

Aku bukan penggila kopi, tapi ga afdol rasanya kalau dalam sehari belum ngopi. Entah ngopi yang serius (kalau ada kawan yang paham dalam memilih jenis kopi atau artisan) atau ngopi sekedarnya, pokoknya yang penting ngopi.

Laporan bertajuk ”Indonesia Coffee Annual” oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang aku kutip dari Harian Kompas menyebutkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan akan meningkat sebesar 10.000 kantong. Dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada tahun ini. Satu kantong kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.

Mungkin laporan itu benar. Karena dalam hiruk pikuk kota-kota besar, hingga pelosok seperti Agats di pesisir selatan Papua, Waghete di pegunungan tengah Papua, pelosok pulau Sedanau di laut Natuna utara atau hulu sungai Mahakam di pedalaman Kaliamantan Timur, bisa dengan mudah ditemukan gerai-gerai yang menawarkan sajian kopi lengkap dengan pernak-perniknya.

Kopi memang tidak sekedar minuman, karena dari kopi banyak cerita yang bisa kita rangkum. Sama seperti dinding rumah sakit atau lantai airport yang kerap jadi saksi seloroh sedih, gusar, senang atau pengalaman tawa, bahagia dan juga isak tangis yang tidak terhitung banyaknya.

Seperti petang itu, aku, Tia, Tito dan Sendy menikmati senja di ujung mega teluk Manado yang manis.

Jadi kamu sudah ngopi belum hari ini 🤓

#visualstorytelling #visualstoryteller


538
7
1 years ago

Seperti berkejaran dengan senja petang itu, Mega dan kawan-kawannya sibuk menyiapkan gerai mereka sekaligus menerima pesanan dari pelanggan yang mulai berdatangan untuk menikmati teduhnya senja sambil ngopi di bibir teluk Manado.

Aku bukan penggila kopi, tapi ga afdol rasanya kalau dalam sehari belum ngopi. Entah ngopi yang serius (kalau ada kawan yang paham dalam memilih jenis kopi atau artisan) atau ngopi sekedarnya, pokoknya yang penting ngopi.

Laporan bertajuk ”Indonesia Coffee Annual” oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang aku kutip dari Harian Kompas menyebutkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan akan meningkat sebesar 10.000 kantong. Dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada tahun ini. Satu kantong kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.

Mungkin laporan itu benar. Karena dalam hiruk pikuk kota-kota besar, hingga pelosok seperti Agats di pesisir selatan Papua, Waghete di pegunungan tengah Papua, pelosok pulau Sedanau di laut Natuna utara atau hulu sungai Mahakam di pedalaman Kaliamantan Timur, bisa dengan mudah ditemukan gerai-gerai yang menawarkan sajian kopi lengkap dengan pernak-perniknya.

Kopi memang tidak sekedar minuman, karena dari kopi banyak cerita yang bisa kita rangkum. Sama seperti dinding rumah sakit atau lantai airport yang kerap jadi saksi seloroh sedih, gusar, senang atau pengalaman tawa, bahagia dan juga isak tangis yang tidak terhitung banyaknya.

Seperti petang itu, aku, Tia, Tito dan Sendy menikmati senja di ujung mega teluk Manado yang manis.

Jadi kamu sudah ngopi belum hari ini 🤓

#visualstorytelling #visualstoryteller


538
7
1 years ago

“Boleh Om. Nda ganggu. Torang lagi basombar.”

Jawaban dari seorang Bapak di salah satu sudut pusat kota Manado siang itu, yang sedang nongkrong di atas sepeda motornya. Jawaban yang diberikan setelah aku bertanya apakah boleh bergabung bersama dengan sekitar lima orang pengemudi ojek daring yang aku hampiri saat itu.

Seperti biasa, aku membuka obrolan dengan memperkenalkan diri dan maksudku bergabung dengan mereka. Tidak butuh waktu yang lama mendapatkan persetujuan untuk boleh memotret mereka.

“Sepi skali nda seperti hari laen jam segini mase rame,” seloroh salah satu dari mereka dengan logat Manando yang kental. Hari itu Manado sudah lumayan cerah setelah hari-hari sebelumnya digempur hujan deras silih berganti.

Lokasi seperti Kawasan Megamas itu tidak sekedar menjadi pusat keriaan, melainkan juga seakan menjadi oase buat mereka yang mengandalkan nafkah hidupnya di jalanan seperti para pengemudi ojek daring itu.

Sarana transportasi daring yang suka atau tidak menjadi salah satu barometer kemajuan sebuah daerah yang berjalan beriringan dengan hiruk pikuk kota dan persaingan hidup yang semakin ketat sebagai konsekuensi logis perkembangan sebuah daerah yang semoga memberi manfaat seluas-luas untuk warganya.

Aku beruntung karena bisa bertemu dan mendengar cerita mereka masing-masing. Bagaimana mereka menjalani hidup sebagai pengemudi ojek daring.

“Akhirnya! Puji Tuhan! Kita jalan dulu Om. Ada orderan masuk ini. Jang lupa kita pe foto ne Om.”

Obrolan santai itu pun kami akhiri dan aku bergegas menyasar hidangan dada tuna bakar yang aromanya sudah menggoda dari kejauhan.

Terima kasih untuk obrolan dan waktunya kawan-kawan.

Semangat!! Salam satu aspal!!

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


264
1 years ago

“Boleh Om. Nda ganggu. Torang lagi basombar.”

Jawaban dari seorang Bapak di salah satu sudut pusat kota Manado siang itu, yang sedang nongkrong di atas sepeda motornya. Jawaban yang diberikan setelah aku bertanya apakah boleh bergabung bersama dengan sekitar lima orang pengemudi ojek daring yang aku hampiri saat itu.

Seperti biasa, aku membuka obrolan dengan memperkenalkan diri dan maksudku bergabung dengan mereka. Tidak butuh waktu yang lama mendapatkan persetujuan untuk boleh memotret mereka.

“Sepi skali nda seperti hari laen jam segini mase rame,” seloroh salah satu dari mereka dengan logat Manando yang kental. Hari itu Manado sudah lumayan cerah setelah hari-hari sebelumnya digempur hujan deras silih berganti.

Lokasi seperti Kawasan Megamas itu tidak sekedar menjadi pusat keriaan, melainkan juga seakan menjadi oase buat mereka yang mengandalkan nafkah hidupnya di jalanan seperti para pengemudi ojek daring itu.

Sarana transportasi daring yang suka atau tidak menjadi salah satu barometer kemajuan sebuah daerah yang berjalan beriringan dengan hiruk pikuk kota dan persaingan hidup yang semakin ketat sebagai konsekuensi logis perkembangan sebuah daerah yang semoga memberi manfaat seluas-luas untuk warganya.

Aku beruntung karena bisa bertemu dan mendengar cerita mereka masing-masing. Bagaimana mereka menjalani hidup sebagai pengemudi ojek daring.

“Akhirnya! Puji Tuhan! Kita jalan dulu Om. Ada orderan masuk ini. Jang lupa kita pe foto ne Om.”

Obrolan santai itu pun kami akhiri dan aku bergegas menyasar hidangan dada tuna bakar yang aromanya sudah menggoda dari kejauhan.

Terima kasih untuk obrolan dan waktunya kawan-kawan.

Semangat!! Salam satu aspal!!

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


264
1 years ago

“Boleh Om. Nda ganggu. Torang lagi basombar.”

Jawaban dari seorang Bapak di salah satu sudut pusat kota Manado siang itu, yang sedang nongkrong di atas sepeda motornya. Jawaban yang diberikan setelah aku bertanya apakah boleh bergabung bersama dengan sekitar lima orang pengemudi ojek daring yang aku hampiri saat itu.

Seperti biasa, aku membuka obrolan dengan memperkenalkan diri dan maksudku bergabung dengan mereka. Tidak butuh waktu yang lama mendapatkan persetujuan untuk boleh memotret mereka.

“Sepi skali nda seperti hari laen jam segini mase rame,” seloroh salah satu dari mereka dengan logat Manando yang kental. Hari itu Manado sudah lumayan cerah setelah hari-hari sebelumnya digempur hujan deras silih berganti.

Lokasi seperti Kawasan Megamas itu tidak sekedar menjadi pusat keriaan, melainkan juga seakan menjadi oase buat mereka yang mengandalkan nafkah hidupnya di jalanan seperti para pengemudi ojek daring itu.

Sarana transportasi daring yang suka atau tidak menjadi salah satu barometer kemajuan sebuah daerah yang berjalan beriringan dengan hiruk pikuk kota dan persaingan hidup yang semakin ketat sebagai konsekuensi logis perkembangan sebuah daerah yang semoga memberi manfaat seluas-luas untuk warganya.

Aku beruntung karena bisa bertemu dan mendengar cerita mereka masing-masing. Bagaimana mereka menjalani hidup sebagai pengemudi ojek daring.

“Akhirnya! Puji Tuhan! Kita jalan dulu Om. Ada orderan masuk ini. Jang lupa kita pe foto ne Om.”

Obrolan santai itu pun kami akhiri dan aku bergegas menyasar hidangan dada tuna bakar yang aromanya sudah menggoda dari kejauhan.

Terima kasih untuk obrolan dan waktunya kawan-kawan.

Semangat!! Salam satu aspal!!

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


264
1 years ago

“Boleh Om. Nda ganggu. Torang lagi basombar.”

Jawaban dari seorang Bapak di salah satu sudut pusat kota Manado siang itu, yang sedang nongkrong di atas sepeda motornya. Jawaban yang diberikan setelah aku bertanya apakah boleh bergabung bersama dengan sekitar lima orang pengemudi ojek daring yang aku hampiri saat itu.

Seperti biasa, aku membuka obrolan dengan memperkenalkan diri dan maksudku bergabung dengan mereka. Tidak butuh waktu yang lama mendapatkan persetujuan untuk boleh memotret mereka.

“Sepi skali nda seperti hari laen jam segini mase rame,” seloroh salah satu dari mereka dengan logat Manando yang kental. Hari itu Manado sudah lumayan cerah setelah hari-hari sebelumnya digempur hujan deras silih berganti.

Lokasi seperti Kawasan Megamas itu tidak sekedar menjadi pusat keriaan, melainkan juga seakan menjadi oase buat mereka yang mengandalkan nafkah hidupnya di jalanan seperti para pengemudi ojek daring itu.

Sarana transportasi daring yang suka atau tidak menjadi salah satu barometer kemajuan sebuah daerah yang berjalan beriringan dengan hiruk pikuk kota dan persaingan hidup yang semakin ketat sebagai konsekuensi logis perkembangan sebuah daerah yang semoga memberi manfaat seluas-luas untuk warganya.

Aku beruntung karena bisa bertemu dan mendengar cerita mereka masing-masing. Bagaimana mereka menjalani hidup sebagai pengemudi ojek daring.

“Akhirnya! Puji Tuhan! Kita jalan dulu Om. Ada orderan masuk ini. Jang lupa kita pe foto ne Om.”

Obrolan santai itu pun kami akhiri dan aku bergegas menyasar hidangan dada tuna bakar yang aromanya sudah menggoda dari kejauhan.

Terima kasih untuk obrolan dan waktunya kawan-kawan.

Semangat!! Salam satu aspal!!

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


264
1 years ago

“Boleh Om. Nda ganggu. Torang lagi basombar.”

Jawaban dari seorang Bapak di salah satu sudut pusat kota Manado siang itu, yang sedang nongkrong di atas sepeda motornya. Jawaban yang diberikan setelah aku bertanya apakah boleh bergabung bersama dengan sekitar lima orang pengemudi ojek daring yang aku hampiri saat itu.

Seperti biasa, aku membuka obrolan dengan memperkenalkan diri dan maksudku bergabung dengan mereka. Tidak butuh waktu yang lama mendapatkan persetujuan untuk boleh memotret mereka.

“Sepi skali nda seperti hari laen jam segini mase rame,” seloroh salah satu dari mereka dengan logat Manando yang kental. Hari itu Manado sudah lumayan cerah setelah hari-hari sebelumnya digempur hujan deras silih berganti.

Lokasi seperti Kawasan Megamas itu tidak sekedar menjadi pusat keriaan, melainkan juga seakan menjadi oase buat mereka yang mengandalkan nafkah hidupnya di jalanan seperti para pengemudi ojek daring itu.

Sarana transportasi daring yang suka atau tidak menjadi salah satu barometer kemajuan sebuah daerah yang berjalan beriringan dengan hiruk pikuk kota dan persaingan hidup yang semakin ketat sebagai konsekuensi logis perkembangan sebuah daerah yang semoga memberi manfaat seluas-luas untuk warganya.

Aku beruntung karena bisa bertemu dan mendengar cerita mereka masing-masing. Bagaimana mereka menjalani hidup sebagai pengemudi ojek daring.

“Akhirnya! Puji Tuhan! Kita jalan dulu Om. Ada orderan masuk ini. Jang lupa kita pe foto ne Om.”

Obrolan santai itu pun kami akhiri dan aku bergegas menyasar hidangan dada tuna bakar yang aromanya sudah menggoda dari kejauhan.

Terima kasih untuk obrolan dan waktunya kawan-kawan.

Semangat!! Salam satu aspal!!

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


264
1 years ago

“Boleh Om. Nda ganggu. Torang lagi basombar.”

Jawaban dari seorang Bapak di salah satu sudut pusat kota Manado siang itu, yang sedang nongkrong di atas sepeda motornya. Jawaban yang diberikan setelah aku bertanya apakah boleh bergabung bersama dengan sekitar lima orang pengemudi ojek daring yang aku hampiri saat itu.

Seperti biasa, aku membuka obrolan dengan memperkenalkan diri dan maksudku bergabung dengan mereka. Tidak butuh waktu yang lama mendapatkan persetujuan untuk boleh memotret mereka.

“Sepi skali nda seperti hari laen jam segini mase rame,” seloroh salah satu dari mereka dengan logat Manando yang kental. Hari itu Manado sudah lumayan cerah setelah hari-hari sebelumnya digempur hujan deras silih berganti.

Lokasi seperti Kawasan Megamas itu tidak sekedar menjadi pusat keriaan, melainkan juga seakan menjadi oase buat mereka yang mengandalkan nafkah hidupnya di jalanan seperti para pengemudi ojek daring itu.

Sarana transportasi daring yang suka atau tidak menjadi salah satu barometer kemajuan sebuah daerah yang berjalan beriringan dengan hiruk pikuk kota dan persaingan hidup yang semakin ketat sebagai konsekuensi logis perkembangan sebuah daerah yang semoga memberi manfaat seluas-luas untuk warganya.

Aku beruntung karena bisa bertemu dan mendengar cerita mereka masing-masing. Bagaimana mereka menjalani hidup sebagai pengemudi ojek daring.

“Akhirnya! Puji Tuhan! Kita jalan dulu Om. Ada orderan masuk ini. Jang lupa kita pe foto ne Om.”

Obrolan santai itu pun kami akhiri dan aku bergegas menyasar hidangan dada tuna bakar yang aromanya sudah menggoda dari kejauhan.

Terima kasih untuk obrolan dan waktunya kawan-kawan.

Semangat!! Salam satu aspal!!

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


264
1 years ago

“Boleh Om. Nda ganggu. Torang lagi basombar.”

Jawaban dari seorang Bapak di salah satu sudut pusat kota Manado siang itu, yang sedang nongkrong di atas sepeda motornya. Jawaban yang diberikan setelah aku bertanya apakah boleh bergabung bersama dengan sekitar lima orang pengemudi ojek daring yang aku hampiri saat itu.

Seperti biasa, aku membuka obrolan dengan memperkenalkan diri dan maksudku bergabung dengan mereka. Tidak butuh waktu yang lama mendapatkan persetujuan untuk boleh memotret mereka.

“Sepi skali nda seperti hari laen jam segini mase rame,” seloroh salah satu dari mereka dengan logat Manando yang kental. Hari itu Manado sudah lumayan cerah setelah hari-hari sebelumnya digempur hujan deras silih berganti.

Lokasi seperti Kawasan Megamas itu tidak sekedar menjadi pusat keriaan, melainkan juga seakan menjadi oase buat mereka yang mengandalkan nafkah hidupnya di jalanan seperti para pengemudi ojek daring itu.

Sarana transportasi daring yang suka atau tidak menjadi salah satu barometer kemajuan sebuah daerah yang berjalan beriringan dengan hiruk pikuk kota dan persaingan hidup yang semakin ketat sebagai konsekuensi logis perkembangan sebuah daerah yang semoga memberi manfaat seluas-luas untuk warganya.

Aku beruntung karena bisa bertemu dan mendengar cerita mereka masing-masing. Bagaimana mereka menjalani hidup sebagai pengemudi ojek daring.

“Akhirnya! Puji Tuhan! Kita jalan dulu Om. Ada orderan masuk ini. Jang lupa kita pe foto ne Om.”

Obrolan santai itu pun kami akhiri dan aku bergegas menyasar hidangan dada tuna bakar yang aromanya sudah menggoda dari kejauhan.

Terima kasih untuk obrolan dan waktunya kawan-kawan.

Semangat!! Salam satu aspal!!

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


264
1 years ago

“Boleh Om. Nda ganggu. Torang lagi basombar.”

Jawaban dari seorang Bapak di salah satu sudut pusat kota Manado siang itu, yang sedang nongkrong di atas sepeda motornya. Jawaban yang diberikan setelah aku bertanya apakah boleh bergabung bersama dengan sekitar lima orang pengemudi ojek daring yang aku hampiri saat itu.

Seperti biasa, aku membuka obrolan dengan memperkenalkan diri dan maksudku bergabung dengan mereka. Tidak butuh waktu yang lama mendapatkan persetujuan untuk boleh memotret mereka.

“Sepi skali nda seperti hari laen jam segini mase rame,” seloroh salah satu dari mereka dengan logat Manando yang kental. Hari itu Manado sudah lumayan cerah setelah hari-hari sebelumnya digempur hujan deras silih berganti.

Lokasi seperti Kawasan Megamas itu tidak sekedar menjadi pusat keriaan, melainkan juga seakan menjadi oase buat mereka yang mengandalkan nafkah hidupnya di jalanan seperti para pengemudi ojek daring itu.

Sarana transportasi daring yang suka atau tidak menjadi salah satu barometer kemajuan sebuah daerah yang berjalan beriringan dengan hiruk pikuk kota dan persaingan hidup yang semakin ketat sebagai konsekuensi logis perkembangan sebuah daerah yang semoga memberi manfaat seluas-luas untuk warganya.

Aku beruntung karena bisa bertemu dan mendengar cerita mereka masing-masing. Bagaimana mereka menjalani hidup sebagai pengemudi ojek daring.

“Akhirnya! Puji Tuhan! Kita jalan dulu Om. Ada orderan masuk ini. Jang lupa kita pe foto ne Om.”

Obrolan santai itu pun kami akhiri dan aku bergegas menyasar hidangan dada tuna bakar yang aromanya sudah menggoda dari kejauhan.

Terima kasih untuk obrolan dan waktunya kawan-kawan.

Semangat!! Salam satu aspal!!

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


264
1 years ago

“Boleh Om. Nda ganggu. Torang lagi basombar.”

Jawaban dari seorang Bapak di salah satu sudut pusat kota Manado siang itu, yang sedang nongkrong di atas sepeda motornya. Jawaban yang diberikan setelah aku bertanya apakah boleh bergabung bersama dengan sekitar lima orang pengemudi ojek daring yang aku hampiri saat itu.

Seperti biasa, aku membuka obrolan dengan memperkenalkan diri dan maksudku bergabung dengan mereka. Tidak butuh waktu yang lama mendapatkan persetujuan untuk boleh memotret mereka.

“Sepi skali nda seperti hari laen jam segini mase rame,” seloroh salah satu dari mereka dengan logat Manando yang kental. Hari itu Manado sudah lumayan cerah setelah hari-hari sebelumnya digempur hujan deras silih berganti.

Lokasi seperti Kawasan Megamas itu tidak sekedar menjadi pusat keriaan, melainkan juga seakan menjadi oase buat mereka yang mengandalkan nafkah hidupnya di jalanan seperti para pengemudi ojek daring itu.

Sarana transportasi daring yang suka atau tidak menjadi salah satu barometer kemajuan sebuah daerah yang berjalan beriringan dengan hiruk pikuk kota dan persaingan hidup yang semakin ketat sebagai konsekuensi logis perkembangan sebuah daerah yang semoga memberi manfaat seluas-luas untuk warganya.

Aku beruntung karena bisa bertemu dan mendengar cerita mereka masing-masing. Bagaimana mereka menjalani hidup sebagai pengemudi ojek daring.

“Akhirnya! Puji Tuhan! Kita jalan dulu Om. Ada orderan masuk ini. Jang lupa kita pe foto ne Om.”

Obrolan santai itu pun kami akhiri dan aku bergegas menyasar hidangan dada tuna bakar yang aromanya sudah menggoda dari kejauhan.

Terima kasih untuk obrolan dan waktunya kawan-kawan.

Semangat!! Salam satu aspal!!

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


264
1 years ago

“Boleh Om. Nda ganggu. Torang lagi basombar.”

Jawaban dari seorang Bapak di salah satu sudut pusat kota Manado siang itu, yang sedang nongkrong di atas sepeda motornya. Jawaban yang diberikan setelah aku bertanya apakah boleh bergabung bersama dengan sekitar lima orang pengemudi ojek daring yang aku hampiri saat itu.

Seperti biasa, aku membuka obrolan dengan memperkenalkan diri dan maksudku bergabung dengan mereka. Tidak butuh waktu yang lama mendapatkan persetujuan untuk boleh memotret mereka.

“Sepi skali nda seperti hari laen jam segini mase rame,” seloroh salah satu dari mereka dengan logat Manando yang kental. Hari itu Manado sudah lumayan cerah setelah hari-hari sebelumnya digempur hujan deras silih berganti.

Lokasi seperti Kawasan Megamas itu tidak sekedar menjadi pusat keriaan, melainkan juga seakan menjadi oase buat mereka yang mengandalkan nafkah hidupnya di jalanan seperti para pengemudi ojek daring itu.

Sarana transportasi daring yang suka atau tidak menjadi salah satu barometer kemajuan sebuah daerah yang berjalan beriringan dengan hiruk pikuk kota dan persaingan hidup yang semakin ketat sebagai konsekuensi logis perkembangan sebuah daerah yang semoga memberi manfaat seluas-luas untuk warganya.

Aku beruntung karena bisa bertemu dan mendengar cerita mereka masing-masing. Bagaimana mereka menjalani hidup sebagai pengemudi ojek daring.

“Akhirnya! Puji Tuhan! Kita jalan dulu Om. Ada orderan masuk ini. Jang lupa kita pe foto ne Om.”

Obrolan santai itu pun kami akhiri dan aku bergegas menyasar hidangan dada tuna bakar yang aromanya sudah menggoda dari kejauhan.

Terima kasih untuk obrolan dan waktunya kawan-kawan.

Semangat!! Salam satu aspal!!

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


264
1 years ago

“Boleh Om. Nda ganggu. Torang lagi basombar.”

Jawaban dari seorang Bapak di salah satu sudut pusat kota Manado siang itu, yang sedang nongkrong di atas sepeda motornya. Jawaban yang diberikan setelah aku bertanya apakah boleh bergabung bersama dengan sekitar lima orang pengemudi ojek daring yang aku hampiri saat itu.

Seperti biasa, aku membuka obrolan dengan memperkenalkan diri dan maksudku bergabung dengan mereka. Tidak butuh waktu yang lama mendapatkan persetujuan untuk boleh memotret mereka.

“Sepi skali nda seperti hari laen jam segini mase rame,” seloroh salah satu dari mereka dengan logat Manando yang kental. Hari itu Manado sudah lumayan cerah setelah hari-hari sebelumnya digempur hujan deras silih berganti.

Lokasi seperti Kawasan Megamas itu tidak sekedar menjadi pusat keriaan, melainkan juga seakan menjadi oase buat mereka yang mengandalkan nafkah hidupnya di jalanan seperti para pengemudi ojek daring itu.

Sarana transportasi daring yang suka atau tidak menjadi salah satu barometer kemajuan sebuah daerah yang berjalan beriringan dengan hiruk pikuk kota dan persaingan hidup yang semakin ketat sebagai konsekuensi logis perkembangan sebuah daerah yang semoga memberi manfaat seluas-luas untuk warganya.

Aku beruntung karena bisa bertemu dan mendengar cerita mereka masing-masing. Bagaimana mereka menjalani hidup sebagai pengemudi ojek daring.

“Akhirnya! Puji Tuhan! Kita jalan dulu Om. Ada orderan masuk ini. Jang lupa kita pe foto ne Om.”

Obrolan santai itu pun kami akhiri dan aku bergegas menyasar hidangan dada tuna bakar yang aromanya sudah menggoda dari kejauhan.

Terima kasih untuk obrolan dan waktunya kawan-kawan.

Semangat!! Salam satu aspal!!

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


264
1 years ago

“Boleh Om. Nda ganggu. Torang lagi basombar.”

Jawaban dari seorang Bapak di salah satu sudut pusat kota Manado siang itu, yang sedang nongkrong di atas sepeda motornya. Jawaban yang diberikan setelah aku bertanya apakah boleh bergabung bersama dengan sekitar lima orang pengemudi ojek daring yang aku hampiri saat itu.

Seperti biasa, aku membuka obrolan dengan memperkenalkan diri dan maksudku bergabung dengan mereka. Tidak butuh waktu yang lama mendapatkan persetujuan untuk boleh memotret mereka.

“Sepi skali nda seperti hari laen jam segini mase rame,” seloroh salah satu dari mereka dengan logat Manando yang kental. Hari itu Manado sudah lumayan cerah setelah hari-hari sebelumnya digempur hujan deras silih berganti.

Lokasi seperti Kawasan Megamas itu tidak sekedar menjadi pusat keriaan, melainkan juga seakan menjadi oase buat mereka yang mengandalkan nafkah hidupnya di jalanan seperti para pengemudi ojek daring itu.

Sarana transportasi daring yang suka atau tidak menjadi salah satu barometer kemajuan sebuah daerah yang berjalan beriringan dengan hiruk pikuk kota dan persaingan hidup yang semakin ketat sebagai konsekuensi logis perkembangan sebuah daerah yang semoga memberi manfaat seluas-luas untuk warganya.

Aku beruntung karena bisa bertemu dan mendengar cerita mereka masing-masing. Bagaimana mereka menjalani hidup sebagai pengemudi ojek daring.

“Akhirnya! Puji Tuhan! Kita jalan dulu Om. Ada orderan masuk ini. Jang lupa kita pe foto ne Om.”

Obrolan santai itu pun kami akhiri dan aku bergegas menyasar hidangan dada tuna bakar yang aromanya sudah menggoda dari kejauhan.

Terima kasih untuk obrolan dan waktunya kawan-kawan.

Semangat!! Salam satu aspal!!

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


264
1 years ago

“Boleh Om. Nda ganggu. Torang lagi basombar.”

Jawaban dari seorang Bapak di salah satu sudut pusat kota Manado siang itu, yang sedang nongkrong di atas sepeda motornya. Jawaban yang diberikan setelah aku bertanya apakah boleh bergabung bersama dengan sekitar lima orang pengemudi ojek daring yang aku hampiri saat itu.

Seperti biasa, aku membuka obrolan dengan memperkenalkan diri dan maksudku bergabung dengan mereka. Tidak butuh waktu yang lama mendapatkan persetujuan untuk boleh memotret mereka.

“Sepi skali nda seperti hari laen jam segini mase rame,” seloroh salah satu dari mereka dengan logat Manando yang kental. Hari itu Manado sudah lumayan cerah setelah hari-hari sebelumnya digempur hujan deras silih berganti.

Lokasi seperti Kawasan Megamas itu tidak sekedar menjadi pusat keriaan, melainkan juga seakan menjadi oase buat mereka yang mengandalkan nafkah hidupnya di jalanan seperti para pengemudi ojek daring itu.

Sarana transportasi daring yang suka atau tidak menjadi salah satu barometer kemajuan sebuah daerah yang berjalan beriringan dengan hiruk pikuk kota dan persaingan hidup yang semakin ketat sebagai konsekuensi logis perkembangan sebuah daerah yang semoga memberi manfaat seluas-luas untuk warganya.

Aku beruntung karena bisa bertemu dan mendengar cerita mereka masing-masing. Bagaimana mereka menjalani hidup sebagai pengemudi ojek daring.

“Akhirnya! Puji Tuhan! Kita jalan dulu Om. Ada orderan masuk ini. Jang lupa kita pe foto ne Om.”

Obrolan santai itu pun kami akhiri dan aku bergegas menyasar hidangan dada tuna bakar yang aromanya sudah menggoda dari kejauhan.

Terima kasih untuk obrolan dan waktunya kawan-kawan.

Semangat!! Salam satu aspal!!

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


264
1 years ago

“Ah gue kangen sunset sama kulineran di Manado!!”

Ujar seorang kawan yang melihat unggahanku sebelumnya tentang Kawasan Megamas di kota Manado.

Buat mereka yang berkunjung ke Manado agaknya sulit untuk dilepaskan dari pengalaman berkunjung ke lokasi yang satu itu, setidaknya buatku yang entah sudah berapa kali menikmati Manado.

Dari beberapa artikel yang aku baca, Kawasan Megamas yang adalah kawasan reklamasi pantai seluas +/- 37 hektar itu dimaksudkan untuk menahan tingkat abrasi di pesisir pantai Manado yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dan seiring berjalannya waktu, lokasi itu berevolusi menjadi tempat yang menyajikan tidak hanya pemandangan pesisir Manado yang memukau, melainkan juga pelbagai kebutuhan dan sarana yang lumayan lengkap.

Ya, Manado memang bukan sekedar Kawasan Megamas, tapi rasanya belum lengkap berkunjung ke Manado kalau belum mampir ke situ.

Terima kasih kepada kawan-kawan @otban8 yang sudah berkenan memberi kesempatan buatku berkunjung ke Manado dan juga terima kasih @pge.lahendong dan Mas @jejak.lensa sudah memfasilitasi aku bertemu, berkenalan dan berdikusi dengan kawan-kawan di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

Jadi, selamat wiken dan mari jo torang ke Manado 🌴☀️☺️

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


308
9
1 years ago

“Ah gue kangen sunset sama kulineran di Manado!!”

Ujar seorang kawan yang melihat unggahanku sebelumnya tentang Kawasan Megamas di kota Manado.

Buat mereka yang berkunjung ke Manado agaknya sulit untuk dilepaskan dari pengalaman berkunjung ke lokasi yang satu itu, setidaknya buatku yang entah sudah berapa kali menikmati Manado.

Dari beberapa artikel yang aku baca, Kawasan Megamas yang adalah kawasan reklamasi pantai seluas +/- 37 hektar itu dimaksudkan untuk menahan tingkat abrasi di pesisir pantai Manado yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dan seiring berjalannya waktu, lokasi itu berevolusi menjadi tempat yang menyajikan tidak hanya pemandangan pesisir Manado yang memukau, melainkan juga pelbagai kebutuhan dan sarana yang lumayan lengkap.

Ya, Manado memang bukan sekedar Kawasan Megamas, tapi rasanya belum lengkap berkunjung ke Manado kalau belum mampir ke situ.

Terima kasih kepada kawan-kawan @otban8 yang sudah berkenan memberi kesempatan buatku berkunjung ke Manado dan juga terima kasih @pge.lahendong dan Mas @jejak.lensa sudah memfasilitasi aku bertemu, berkenalan dan berdikusi dengan kawan-kawan di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

Jadi, selamat wiken dan mari jo torang ke Manado 🌴☀️☺️

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


308
9
1 years ago

“Ah gue kangen sunset sama kulineran di Manado!!”

Ujar seorang kawan yang melihat unggahanku sebelumnya tentang Kawasan Megamas di kota Manado.

Buat mereka yang berkunjung ke Manado agaknya sulit untuk dilepaskan dari pengalaman berkunjung ke lokasi yang satu itu, setidaknya buatku yang entah sudah berapa kali menikmati Manado.

Dari beberapa artikel yang aku baca, Kawasan Megamas yang adalah kawasan reklamasi pantai seluas +/- 37 hektar itu dimaksudkan untuk menahan tingkat abrasi di pesisir pantai Manado yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dan seiring berjalannya waktu, lokasi itu berevolusi menjadi tempat yang menyajikan tidak hanya pemandangan pesisir Manado yang memukau, melainkan juga pelbagai kebutuhan dan sarana yang lumayan lengkap.

Ya, Manado memang bukan sekedar Kawasan Megamas, tapi rasanya belum lengkap berkunjung ke Manado kalau belum mampir ke situ.

Terima kasih kepada kawan-kawan @otban8 yang sudah berkenan memberi kesempatan buatku berkunjung ke Manado dan juga terima kasih @pge.lahendong dan Mas @jejak.lensa sudah memfasilitasi aku bertemu, berkenalan dan berdikusi dengan kawan-kawan di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

Jadi, selamat wiken dan mari jo torang ke Manado 🌴☀️☺️

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


308
9
1 years ago

“Ah gue kangen sunset sama kulineran di Manado!!”

Ujar seorang kawan yang melihat unggahanku sebelumnya tentang Kawasan Megamas di kota Manado.

Buat mereka yang berkunjung ke Manado agaknya sulit untuk dilepaskan dari pengalaman berkunjung ke lokasi yang satu itu, setidaknya buatku yang entah sudah berapa kali menikmati Manado.

Dari beberapa artikel yang aku baca, Kawasan Megamas yang adalah kawasan reklamasi pantai seluas +/- 37 hektar itu dimaksudkan untuk menahan tingkat abrasi di pesisir pantai Manado yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dan seiring berjalannya waktu, lokasi itu berevolusi menjadi tempat yang menyajikan tidak hanya pemandangan pesisir Manado yang memukau, melainkan juga pelbagai kebutuhan dan sarana yang lumayan lengkap.

Ya, Manado memang bukan sekedar Kawasan Megamas, tapi rasanya belum lengkap berkunjung ke Manado kalau belum mampir ke situ.

Terima kasih kepada kawan-kawan @otban8 yang sudah berkenan memberi kesempatan buatku berkunjung ke Manado dan juga terima kasih @pge.lahendong dan Mas @jejak.lensa sudah memfasilitasi aku bertemu, berkenalan dan berdikusi dengan kawan-kawan di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

Jadi, selamat wiken dan mari jo torang ke Manado 🌴☀️☺️

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


308
9
1 years ago

“Ah gue kangen sunset sama kulineran di Manado!!”

Ujar seorang kawan yang melihat unggahanku sebelumnya tentang Kawasan Megamas di kota Manado.

Buat mereka yang berkunjung ke Manado agaknya sulit untuk dilepaskan dari pengalaman berkunjung ke lokasi yang satu itu, setidaknya buatku yang entah sudah berapa kali menikmati Manado.

Dari beberapa artikel yang aku baca, Kawasan Megamas yang adalah kawasan reklamasi pantai seluas +/- 37 hektar itu dimaksudkan untuk menahan tingkat abrasi di pesisir pantai Manado yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dan seiring berjalannya waktu, lokasi itu berevolusi menjadi tempat yang menyajikan tidak hanya pemandangan pesisir Manado yang memukau, melainkan juga pelbagai kebutuhan dan sarana yang lumayan lengkap.

Ya, Manado memang bukan sekedar Kawasan Megamas, tapi rasanya belum lengkap berkunjung ke Manado kalau belum mampir ke situ.

Terima kasih kepada kawan-kawan @otban8 yang sudah berkenan memberi kesempatan buatku berkunjung ke Manado dan juga terima kasih @pge.lahendong dan Mas @jejak.lensa sudah memfasilitasi aku bertemu, berkenalan dan berdikusi dengan kawan-kawan di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

Jadi, selamat wiken dan mari jo torang ke Manado 🌴☀️☺️

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


308
9
1 years ago

“Ah gue kangen sunset sama kulineran di Manado!!”

Ujar seorang kawan yang melihat unggahanku sebelumnya tentang Kawasan Megamas di kota Manado.

Buat mereka yang berkunjung ke Manado agaknya sulit untuk dilepaskan dari pengalaman berkunjung ke lokasi yang satu itu, setidaknya buatku yang entah sudah berapa kali menikmati Manado.

Dari beberapa artikel yang aku baca, Kawasan Megamas yang adalah kawasan reklamasi pantai seluas +/- 37 hektar itu dimaksudkan untuk menahan tingkat abrasi di pesisir pantai Manado yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dan seiring berjalannya waktu, lokasi itu berevolusi menjadi tempat yang menyajikan tidak hanya pemandangan pesisir Manado yang memukau, melainkan juga pelbagai kebutuhan dan sarana yang lumayan lengkap.

Ya, Manado memang bukan sekedar Kawasan Megamas, tapi rasanya belum lengkap berkunjung ke Manado kalau belum mampir ke situ.

Terima kasih kepada kawan-kawan @otban8 yang sudah berkenan memberi kesempatan buatku berkunjung ke Manado dan juga terima kasih @pge.lahendong dan Mas @jejak.lensa sudah memfasilitasi aku bertemu, berkenalan dan berdikusi dengan kawan-kawan di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

Jadi, selamat wiken dan mari jo torang ke Manado 🌴☀️☺️

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


308
9
1 years ago

“Ah gue kangen sunset sama kulineran di Manado!!”

Ujar seorang kawan yang melihat unggahanku sebelumnya tentang Kawasan Megamas di kota Manado.

Buat mereka yang berkunjung ke Manado agaknya sulit untuk dilepaskan dari pengalaman berkunjung ke lokasi yang satu itu, setidaknya buatku yang entah sudah berapa kali menikmati Manado.

Dari beberapa artikel yang aku baca, Kawasan Megamas yang adalah kawasan reklamasi pantai seluas +/- 37 hektar itu dimaksudkan untuk menahan tingkat abrasi di pesisir pantai Manado yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dan seiring berjalannya waktu, lokasi itu berevolusi menjadi tempat yang menyajikan tidak hanya pemandangan pesisir Manado yang memukau, melainkan juga pelbagai kebutuhan dan sarana yang lumayan lengkap.

Ya, Manado memang bukan sekedar Kawasan Megamas, tapi rasanya belum lengkap berkunjung ke Manado kalau belum mampir ke situ.

Terima kasih kepada kawan-kawan @otban8 yang sudah berkenan memberi kesempatan buatku berkunjung ke Manado dan juga terima kasih @pge.lahendong dan Mas @jejak.lensa sudah memfasilitasi aku bertemu, berkenalan dan berdikusi dengan kawan-kawan di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

Jadi, selamat wiken dan mari jo torang ke Manado 🌴☀️☺️

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


308
9
1 years ago

“Ah gue kangen sunset sama kulineran di Manado!!”

Ujar seorang kawan yang melihat unggahanku sebelumnya tentang Kawasan Megamas di kota Manado.

Buat mereka yang berkunjung ke Manado agaknya sulit untuk dilepaskan dari pengalaman berkunjung ke lokasi yang satu itu, setidaknya buatku yang entah sudah berapa kali menikmati Manado.

Dari beberapa artikel yang aku baca, Kawasan Megamas yang adalah kawasan reklamasi pantai seluas +/- 37 hektar itu dimaksudkan untuk menahan tingkat abrasi di pesisir pantai Manado yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dan seiring berjalannya waktu, lokasi itu berevolusi menjadi tempat yang menyajikan tidak hanya pemandangan pesisir Manado yang memukau, melainkan juga pelbagai kebutuhan dan sarana yang lumayan lengkap.

Ya, Manado memang bukan sekedar Kawasan Megamas, tapi rasanya belum lengkap berkunjung ke Manado kalau belum mampir ke situ.

Terima kasih kepada kawan-kawan @otban8 yang sudah berkenan memberi kesempatan buatku berkunjung ke Manado dan juga terima kasih @pge.lahendong dan Mas @jejak.lensa sudah memfasilitasi aku bertemu, berkenalan dan berdikusi dengan kawan-kawan di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

Jadi, selamat wiken dan mari jo torang ke Manado 🌴☀️☺️

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


308
9
1 years ago

“Ah gue kangen sunset sama kulineran di Manado!!”

Ujar seorang kawan yang melihat unggahanku sebelumnya tentang Kawasan Megamas di kota Manado.

Buat mereka yang berkunjung ke Manado agaknya sulit untuk dilepaskan dari pengalaman berkunjung ke lokasi yang satu itu, setidaknya buatku yang entah sudah berapa kali menikmati Manado.

Dari beberapa artikel yang aku baca, Kawasan Megamas yang adalah kawasan reklamasi pantai seluas +/- 37 hektar itu dimaksudkan untuk menahan tingkat abrasi di pesisir pantai Manado yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dan seiring berjalannya waktu, lokasi itu berevolusi menjadi tempat yang menyajikan tidak hanya pemandangan pesisir Manado yang memukau, melainkan juga pelbagai kebutuhan dan sarana yang lumayan lengkap.

Ya, Manado memang bukan sekedar Kawasan Megamas, tapi rasanya belum lengkap berkunjung ke Manado kalau belum mampir ke situ.

Terima kasih kepada kawan-kawan @otban8 yang sudah berkenan memberi kesempatan buatku berkunjung ke Manado dan juga terima kasih @pge.lahendong dan Mas @jejak.lensa sudah memfasilitasi aku bertemu, berkenalan dan berdikusi dengan kawan-kawan di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

Jadi, selamat wiken dan mari jo torang ke Manado 🌴☀️☺️

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


308
9
1 years ago

“Ah gue kangen sunset sama kulineran di Manado!!”

Ujar seorang kawan yang melihat unggahanku sebelumnya tentang Kawasan Megamas di kota Manado.

Buat mereka yang berkunjung ke Manado agaknya sulit untuk dilepaskan dari pengalaman berkunjung ke lokasi yang satu itu, setidaknya buatku yang entah sudah berapa kali menikmati Manado.

Dari beberapa artikel yang aku baca, Kawasan Megamas yang adalah kawasan reklamasi pantai seluas +/- 37 hektar itu dimaksudkan untuk menahan tingkat abrasi di pesisir pantai Manado yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dan seiring berjalannya waktu, lokasi itu berevolusi menjadi tempat yang menyajikan tidak hanya pemandangan pesisir Manado yang memukau, melainkan juga pelbagai kebutuhan dan sarana yang lumayan lengkap.

Ya, Manado memang bukan sekedar Kawasan Megamas, tapi rasanya belum lengkap berkunjung ke Manado kalau belum mampir ke situ.

Terima kasih kepada kawan-kawan @otban8 yang sudah berkenan memberi kesempatan buatku berkunjung ke Manado dan juga terima kasih @pge.lahendong dan Mas @jejak.lensa sudah memfasilitasi aku bertemu, berkenalan dan berdikusi dengan kawan-kawan di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

Jadi, selamat wiken dan mari jo torang ke Manado 🌴☀️☺️

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


308
9
1 years ago

“Ah gue kangen sunset sama kulineran di Manado!!”

Ujar seorang kawan yang melihat unggahanku sebelumnya tentang Kawasan Megamas di kota Manado.

Buat mereka yang berkunjung ke Manado agaknya sulit untuk dilepaskan dari pengalaman berkunjung ke lokasi yang satu itu, setidaknya buatku yang entah sudah berapa kali menikmati Manado.

Dari beberapa artikel yang aku baca, Kawasan Megamas yang adalah kawasan reklamasi pantai seluas +/- 37 hektar itu dimaksudkan untuk menahan tingkat abrasi di pesisir pantai Manado yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dan seiring berjalannya waktu, lokasi itu berevolusi menjadi tempat yang menyajikan tidak hanya pemandangan pesisir Manado yang memukau, melainkan juga pelbagai kebutuhan dan sarana yang lumayan lengkap.

Ya, Manado memang bukan sekedar Kawasan Megamas, tapi rasanya belum lengkap berkunjung ke Manado kalau belum mampir ke situ.

Terima kasih kepada kawan-kawan @otban8 yang sudah berkenan memberi kesempatan buatku berkunjung ke Manado dan juga terima kasih @pge.lahendong dan Mas @jejak.lensa sudah memfasilitasi aku bertemu, berkenalan dan berdikusi dengan kawan-kawan di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

Jadi, selamat wiken dan mari jo torang ke Manado 🌴☀️☺️

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


308
9
1 years ago

“Ah gue kangen sunset sama kulineran di Manado!!”

Ujar seorang kawan yang melihat unggahanku sebelumnya tentang Kawasan Megamas di kota Manado.

Buat mereka yang berkunjung ke Manado agaknya sulit untuk dilepaskan dari pengalaman berkunjung ke lokasi yang satu itu, setidaknya buatku yang entah sudah berapa kali menikmati Manado.

Dari beberapa artikel yang aku baca, Kawasan Megamas yang adalah kawasan reklamasi pantai seluas +/- 37 hektar itu dimaksudkan untuk menahan tingkat abrasi di pesisir pantai Manado yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dan seiring berjalannya waktu, lokasi itu berevolusi menjadi tempat yang menyajikan tidak hanya pemandangan pesisir Manado yang memukau, melainkan juga pelbagai kebutuhan dan sarana yang lumayan lengkap.

Ya, Manado memang bukan sekedar Kawasan Megamas, tapi rasanya belum lengkap berkunjung ke Manado kalau belum mampir ke situ.

Terima kasih kepada kawan-kawan @otban8 yang sudah berkenan memberi kesempatan buatku berkunjung ke Manado dan juga terima kasih @pge.lahendong dan Mas @jejak.lensa sudah memfasilitasi aku bertemu, berkenalan dan berdikusi dengan kawan-kawan di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

Jadi, selamat wiken dan mari jo torang ke Manado 🌴☀️☺️

#visualstorytelling #visualstoryteller #manado


308
9
1 years ago

Tiap kali akan mendarat di kota Manado, kita akan mendapatkan sajian pemandangan pesisir pantai yang dihiasi dengan gunung Manado Tua dan perbukitan yang seakan memagari kota itu.

Sesekali kalau langit cerah, kita juga bisa menyaksikan matahari terbit, karena biasanya rute penerbangan menuju ke Manado ditempuh sejak dini hari.

Manado tidak bisa dipisahkan dari laut, karena kota itu punya garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Selain gunung atau pulau Manado Tua, di sekitar perairan Manado juga terdapat pulau Bunaken dan pulau Siladen.

Tidak hanya itu, di Manado aku bisa memuaskan seleraku untuk menyantap beragam hidangan hasil laut dengan bumbu dan rempah khas Minahasa yang bikin nagih!!

Menikmati pemandangan dan juga kuliner di kota Manado bisa dilakukan salah satunya di Kawasan Megamas yang terletak di Kecamatan Wenang. Nama Wenang merupakan cikal bakal kota Manado, yang pada tahun 1682 nama tersebut diganti menjadi Manado oleh bangsa Spanyol (Prof. Geraldine Manoppo-Watupongoh).

Sebuah kawasan reklamasi pantai seluas 36 hektar, yang mulai direklamasi sejak tahun 1996 dan mulai dikembangkan sejak tahun 2000-an. Sepertinya lokasi tersebut menjadi semacam alun-alun bagi warga kota Manado. Karena di Kawasan Megamas, terdapat pelbagai sarana perbelanjaan, sarana hiburan, pusat kuliner, hotel-hotel, dll.

Dan kali ini, aku beruntung karena bisa punya kesempatan untuk nyetrit di kawasan ini. Menikmati tidak hanya kulinernya, hangatnya matahari terbit dan teduhnya matahari terbenam, tapi aku juga bisa menikmati cerita-cerita yang ada di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

📸 Sony A7R V + TTArtisan 35mm f1.4

@sonyalpha_id @sonyalpha @ttartisan.id @ttartisanofficial

#visualstoryteller #visualstorytelling #manado


1.2K
17
1 years ago

Tiap kali akan mendarat di kota Manado, kita akan mendapatkan sajian pemandangan pesisir pantai yang dihiasi dengan gunung Manado Tua dan perbukitan yang seakan memagari kota itu.

Sesekali kalau langit cerah, kita juga bisa menyaksikan matahari terbit, karena biasanya rute penerbangan menuju ke Manado ditempuh sejak dini hari.

Manado tidak bisa dipisahkan dari laut, karena kota itu punya garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Selain gunung atau pulau Manado Tua, di sekitar perairan Manado juga terdapat pulau Bunaken dan pulau Siladen.

Tidak hanya itu, di Manado aku bisa memuaskan seleraku untuk menyantap beragam hidangan hasil laut dengan bumbu dan rempah khas Minahasa yang bikin nagih!!

Menikmati pemandangan dan juga kuliner di kota Manado bisa dilakukan salah satunya di Kawasan Megamas yang terletak di Kecamatan Wenang. Nama Wenang merupakan cikal bakal kota Manado, yang pada tahun 1682 nama tersebut diganti menjadi Manado oleh bangsa Spanyol (Prof. Geraldine Manoppo-Watupongoh).

Sebuah kawasan reklamasi pantai seluas 36 hektar, yang mulai direklamasi sejak tahun 1996 dan mulai dikembangkan sejak tahun 2000-an. Sepertinya lokasi tersebut menjadi semacam alun-alun bagi warga kota Manado. Karena di Kawasan Megamas, terdapat pelbagai sarana perbelanjaan, sarana hiburan, pusat kuliner, hotel-hotel, dll.

Dan kali ini, aku beruntung karena bisa punya kesempatan untuk nyetrit di kawasan ini. Menikmati tidak hanya kulinernya, hangatnya matahari terbit dan teduhnya matahari terbenam, tapi aku juga bisa menikmati cerita-cerita yang ada di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

📸 Sony A7R V + TTArtisan 35mm f1.4

@sonyalpha_id @sonyalpha @ttartisan.id @ttartisanofficial

#visualstoryteller #visualstorytelling #manado


1.2K
17
1 years ago

Tiap kali akan mendarat di kota Manado, kita akan mendapatkan sajian pemandangan pesisir pantai yang dihiasi dengan gunung Manado Tua dan perbukitan yang seakan memagari kota itu.

Sesekali kalau langit cerah, kita juga bisa menyaksikan matahari terbit, karena biasanya rute penerbangan menuju ke Manado ditempuh sejak dini hari.

Manado tidak bisa dipisahkan dari laut, karena kota itu punya garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Selain gunung atau pulau Manado Tua, di sekitar perairan Manado juga terdapat pulau Bunaken dan pulau Siladen.

Tidak hanya itu, di Manado aku bisa memuaskan seleraku untuk menyantap beragam hidangan hasil laut dengan bumbu dan rempah khas Minahasa yang bikin nagih!!

Menikmati pemandangan dan juga kuliner di kota Manado bisa dilakukan salah satunya di Kawasan Megamas yang terletak di Kecamatan Wenang. Nama Wenang merupakan cikal bakal kota Manado, yang pada tahun 1682 nama tersebut diganti menjadi Manado oleh bangsa Spanyol (Prof. Geraldine Manoppo-Watupongoh).

Sebuah kawasan reklamasi pantai seluas 36 hektar, yang mulai direklamasi sejak tahun 1996 dan mulai dikembangkan sejak tahun 2000-an. Sepertinya lokasi tersebut menjadi semacam alun-alun bagi warga kota Manado. Karena di Kawasan Megamas, terdapat pelbagai sarana perbelanjaan, sarana hiburan, pusat kuliner, hotel-hotel, dll.

Dan kali ini, aku beruntung karena bisa punya kesempatan untuk nyetrit di kawasan ini. Menikmati tidak hanya kulinernya, hangatnya matahari terbit dan teduhnya matahari terbenam, tapi aku juga bisa menikmati cerita-cerita yang ada di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

📸 Sony A7R V + TTArtisan 35mm f1.4

@sonyalpha_id @sonyalpha @ttartisan.id @ttartisanofficial

#visualstoryteller #visualstorytelling #manado


1.2K
17
1 years ago

Tiap kali akan mendarat di kota Manado, kita akan mendapatkan sajian pemandangan pesisir pantai yang dihiasi dengan gunung Manado Tua dan perbukitan yang seakan memagari kota itu.

Sesekali kalau langit cerah, kita juga bisa menyaksikan matahari terbit, karena biasanya rute penerbangan menuju ke Manado ditempuh sejak dini hari.

Manado tidak bisa dipisahkan dari laut, karena kota itu punya garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Selain gunung atau pulau Manado Tua, di sekitar perairan Manado juga terdapat pulau Bunaken dan pulau Siladen.

Tidak hanya itu, di Manado aku bisa memuaskan seleraku untuk menyantap beragam hidangan hasil laut dengan bumbu dan rempah khas Minahasa yang bikin nagih!!

Menikmati pemandangan dan juga kuliner di kota Manado bisa dilakukan salah satunya di Kawasan Megamas yang terletak di Kecamatan Wenang. Nama Wenang merupakan cikal bakal kota Manado, yang pada tahun 1682 nama tersebut diganti menjadi Manado oleh bangsa Spanyol (Prof. Geraldine Manoppo-Watupongoh).

Sebuah kawasan reklamasi pantai seluas 36 hektar, yang mulai direklamasi sejak tahun 1996 dan mulai dikembangkan sejak tahun 2000-an. Sepertinya lokasi tersebut menjadi semacam alun-alun bagi warga kota Manado. Karena di Kawasan Megamas, terdapat pelbagai sarana perbelanjaan, sarana hiburan, pusat kuliner, hotel-hotel, dll.

Dan kali ini, aku beruntung karena bisa punya kesempatan untuk nyetrit di kawasan ini. Menikmati tidak hanya kulinernya, hangatnya matahari terbit dan teduhnya matahari terbenam, tapi aku juga bisa menikmati cerita-cerita yang ada di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

📸 Sony A7R V + TTArtisan 35mm f1.4

@sonyalpha_id @sonyalpha @ttartisan.id @ttartisanofficial

#visualstoryteller #visualstorytelling #manado


1.2K
17
1 years ago

Tiap kali akan mendarat di kota Manado, kita akan mendapatkan sajian pemandangan pesisir pantai yang dihiasi dengan gunung Manado Tua dan perbukitan yang seakan memagari kota itu.

Sesekali kalau langit cerah, kita juga bisa menyaksikan matahari terbit, karena biasanya rute penerbangan menuju ke Manado ditempuh sejak dini hari.

Manado tidak bisa dipisahkan dari laut, karena kota itu punya garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Selain gunung atau pulau Manado Tua, di sekitar perairan Manado juga terdapat pulau Bunaken dan pulau Siladen.

Tidak hanya itu, di Manado aku bisa memuaskan seleraku untuk menyantap beragam hidangan hasil laut dengan bumbu dan rempah khas Minahasa yang bikin nagih!!

Menikmati pemandangan dan juga kuliner di kota Manado bisa dilakukan salah satunya di Kawasan Megamas yang terletak di Kecamatan Wenang. Nama Wenang merupakan cikal bakal kota Manado, yang pada tahun 1682 nama tersebut diganti menjadi Manado oleh bangsa Spanyol (Prof. Geraldine Manoppo-Watupongoh).

Sebuah kawasan reklamasi pantai seluas 36 hektar, yang mulai direklamasi sejak tahun 1996 dan mulai dikembangkan sejak tahun 2000-an. Sepertinya lokasi tersebut menjadi semacam alun-alun bagi warga kota Manado. Karena di Kawasan Megamas, terdapat pelbagai sarana perbelanjaan, sarana hiburan, pusat kuliner, hotel-hotel, dll.

Dan kali ini, aku beruntung karena bisa punya kesempatan untuk nyetrit di kawasan ini. Menikmati tidak hanya kulinernya, hangatnya matahari terbit dan teduhnya matahari terbenam, tapi aku juga bisa menikmati cerita-cerita yang ada di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

📸 Sony A7R V + TTArtisan 35mm f1.4

@sonyalpha_id @sonyalpha @ttartisan.id @ttartisanofficial

#visualstoryteller #visualstorytelling #manado


1.2K
17
1 years ago

Tiap kali akan mendarat di kota Manado, kita akan mendapatkan sajian pemandangan pesisir pantai yang dihiasi dengan gunung Manado Tua dan perbukitan yang seakan memagari kota itu.

Sesekali kalau langit cerah, kita juga bisa menyaksikan matahari terbit, karena biasanya rute penerbangan menuju ke Manado ditempuh sejak dini hari.

Manado tidak bisa dipisahkan dari laut, karena kota itu punya garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Selain gunung atau pulau Manado Tua, di sekitar perairan Manado juga terdapat pulau Bunaken dan pulau Siladen.

Tidak hanya itu, di Manado aku bisa memuaskan seleraku untuk menyantap beragam hidangan hasil laut dengan bumbu dan rempah khas Minahasa yang bikin nagih!!

Menikmati pemandangan dan juga kuliner di kota Manado bisa dilakukan salah satunya di Kawasan Megamas yang terletak di Kecamatan Wenang. Nama Wenang merupakan cikal bakal kota Manado, yang pada tahun 1682 nama tersebut diganti menjadi Manado oleh bangsa Spanyol (Prof. Geraldine Manoppo-Watupongoh).

Sebuah kawasan reklamasi pantai seluas 36 hektar, yang mulai direklamasi sejak tahun 1996 dan mulai dikembangkan sejak tahun 2000-an. Sepertinya lokasi tersebut menjadi semacam alun-alun bagi warga kota Manado. Karena di Kawasan Megamas, terdapat pelbagai sarana perbelanjaan, sarana hiburan, pusat kuliner, hotel-hotel, dll.

Dan kali ini, aku beruntung karena bisa punya kesempatan untuk nyetrit di kawasan ini. Menikmati tidak hanya kulinernya, hangatnya matahari terbit dan teduhnya matahari terbenam, tapi aku juga bisa menikmati cerita-cerita yang ada di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

📸 Sony A7R V + TTArtisan 35mm f1.4

@sonyalpha_id @sonyalpha @ttartisan.id @ttartisanofficial

#visualstoryteller #visualstorytelling #manado


1.2K
17
1 years ago

Tiap kali akan mendarat di kota Manado, kita akan mendapatkan sajian pemandangan pesisir pantai yang dihiasi dengan gunung Manado Tua dan perbukitan yang seakan memagari kota itu.

Sesekali kalau langit cerah, kita juga bisa menyaksikan matahari terbit, karena biasanya rute penerbangan menuju ke Manado ditempuh sejak dini hari.

Manado tidak bisa dipisahkan dari laut, karena kota itu punya garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Selain gunung atau pulau Manado Tua, di sekitar perairan Manado juga terdapat pulau Bunaken dan pulau Siladen.

Tidak hanya itu, di Manado aku bisa memuaskan seleraku untuk menyantap beragam hidangan hasil laut dengan bumbu dan rempah khas Minahasa yang bikin nagih!!

Menikmati pemandangan dan juga kuliner di kota Manado bisa dilakukan salah satunya di Kawasan Megamas yang terletak di Kecamatan Wenang. Nama Wenang merupakan cikal bakal kota Manado, yang pada tahun 1682 nama tersebut diganti menjadi Manado oleh bangsa Spanyol (Prof. Geraldine Manoppo-Watupongoh).

Sebuah kawasan reklamasi pantai seluas 36 hektar, yang mulai direklamasi sejak tahun 1996 dan mulai dikembangkan sejak tahun 2000-an. Sepertinya lokasi tersebut menjadi semacam alun-alun bagi warga kota Manado. Karena di Kawasan Megamas, terdapat pelbagai sarana perbelanjaan, sarana hiburan, pusat kuliner, hotel-hotel, dll.

Dan kali ini, aku beruntung karena bisa punya kesempatan untuk nyetrit di kawasan ini. Menikmati tidak hanya kulinernya, hangatnya matahari terbit dan teduhnya matahari terbenam, tapi aku juga bisa menikmati cerita-cerita yang ada di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

📸 Sony A7R V + TTArtisan 35mm f1.4

@sonyalpha_id @sonyalpha @ttartisan.id @ttartisanofficial

#visualstoryteller #visualstorytelling #manado


1.2K
17
1 years ago

Tiap kali akan mendarat di kota Manado, kita akan mendapatkan sajian pemandangan pesisir pantai yang dihiasi dengan gunung Manado Tua dan perbukitan yang seakan memagari kota itu.

Sesekali kalau langit cerah, kita juga bisa menyaksikan matahari terbit, karena biasanya rute penerbangan menuju ke Manado ditempuh sejak dini hari.

Manado tidak bisa dipisahkan dari laut, karena kota itu punya garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Selain gunung atau pulau Manado Tua, di sekitar perairan Manado juga terdapat pulau Bunaken dan pulau Siladen.

Tidak hanya itu, di Manado aku bisa memuaskan seleraku untuk menyantap beragam hidangan hasil laut dengan bumbu dan rempah khas Minahasa yang bikin nagih!!

Menikmati pemandangan dan juga kuliner di kota Manado bisa dilakukan salah satunya di Kawasan Megamas yang terletak di Kecamatan Wenang. Nama Wenang merupakan cikal bakal kota Manado, yang pada tahun 1682 nama tersebut diganti menjadi Manado oleh bangsa Spanyol (Prof. Geraldine Manoppo-Watupongoh).

Sebuah kawasan reklamasi pantai seluas 36 hektar, yang mulai direklamasi sejak tahun 1996 dan mulai dikembangkan sejak tahun 2000-an. Sepertinya lokasi tersebut menjadi semacam alun-alun bagi warga kota Manado. Karena di Kawasan Megamas, terdapat pelbagai sarana perbelanjaan, sarana hiburan, pusat kuliner, hotel-hotel, dll.

Dan kali ini, aku beruntung karena bisa punya kesempatan untuk nyetrit di kawasan ini. Menikmati tidak hanya kulinernya, hangatnya matahari terbit dan teduhnya matahari terbenam, tapi aku juga bisa menikmati cerita-cerita yang ada di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

📸 Sony A7R V + TTArtisan 35mm f1.4

@sonyalpha_id @sonyalpha @ttartisan.id @ttartisanofficial

#visualstoryteller #visualstorytelling #manado


1.2K
17
1 years ago

Tiap kali akan mendarat di kota Manado, kita akan mendapatkan sajian pemandangan pesisir pantai yang dihiasi dengan gunung Manado Tua dan perbukitan yang seakan memagari kota itu.

Sesekali kalau langit cerah, kita juga bisa menyaksikan matahari terbit, karena biasanya rute penerbangan menuju ke Manado ditempuh sejak dini hari.

Manado tidak bisa dipisahkan dari laut, karena kota itu punya garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Selain gunung atau pulau Manado Tua, di sekitar perairan Manado juga terdapat pulau Bunaken dan pulau Siladen.

Tidak hanya itu, di Manado aku bisa memuaskan seleraku untuk menyantap beragam hidangan hasil laut dengan bumbu dan rempah khas Minahasa yang bikin nagih!!

Menikmati pemandangan dan juga kuliner di kota Manado bisa dilakukan salah satunya di Kawasan Megamas yang terletak di Kecamatan Wenang. Nama Wenang merupakan cikal bakal kota Manado, yang pada tahun 1682 nama tersebut diganti menjadi Manado oleh bangsa Spanyol (Prof. Geraldine Manoppo-Watupongoh).

Sebuah kawasan reklamasi pantai seluas 36 hektar, yang mulai direklamasi sejak tahun 1996 dan mulai dikembangkan sejak tahun 2000-an. Sepertinya lokasi tersebut menjadi semacam alun-alun bagi warga kota Manado. Karena di Kawasan Megamas, terdapat pelbagai sarana perbelanjaan, sarana hiburan, pusat kuliner, hotel-hotel, dll.

Dan kali ini, aku beruntung karena bisa punya kesempatan untuk nyetrit di kawasan ini. Menikmati tidak hanya kulinernya, hangatnya matahari terbit dan teduhnya matahari terbenam, tapi aku juga bisa menikmati cerita-cerita yang ada di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

📸 Sony A7R V + TTArtisan 35mm f1.4

@sonyalpha_id @sonyalpha @ttartisan.id @ttartisanofficial

#visualstoryteller #visualstorytelling #manado


1.2K
17
1 years ago

Tiap kali akan mendarat di kota Manado, kita akan mendapatkan sajian pemandangan pesisir pantai yang dihiasi dengan gunung Manado Tua dan perbukitan yang seakan memagari kota itu.

Sesekali kalau langit cerah, kita juga bisa menyaksikan matahari terbit, karena biasanya rute penerbangan menuju ke Manado ditempuh sejak dini hari.

Manado tidak bisa dipisahkan dari laut, karena kota itu punya garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Selain gunung atau pulau Manado Tua, di sekitar perairan Manado juga terdapat pulau Bunaken dan pulau Siladen.

Tidak hanya itu, di Manado aku bisa memuaskan seleraku untuk menyantap beragam hidangan hasil laut dengan bumbu dan rempah khas Minahasa yang bikin nagih!!

Menikmati pemandangan dan juga kuliner di kota Manado bisa dilakukan salah satunya di Kawasan Megamas yang terletak di Kecamatan Wenang. Nama Wenang merupakan cikal bakal kota Manado, yang pada tahun 1682 nama tersebut diganti menjadi Manado oleh bangsa Spanyol (Prof. Geraldine Manoppo-Watupongoh).

Sebuah kawasan reklamasi pantai seluas 36 hektar, yang mulai direklamasi sejak tahun 1996 dan mulai dikembangkan sejak tahun 2000-an. Sepertinya lokasi tersebut menjadi semacam alun-alun bagi warga kota Manado. Karena di Kawasan Megamas, terdapat pelbagai sarana perbelanjaan, sarana hiburan, pusat kuliner, hotel-hotel, dll.

Dan kali ini, aku beruntung karena bisa punya kesempatan untuk nyetrit di kawasan ini. Menikmati tidak hanya kulinernya, hangatnya matahari terbit dan teduhnya matahari terbenam, tapi aku juga bisa menikmati cerita-cerita yang ada di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

📸 Sony A7R V + TTArtisan 35mm f1.4

@sonyalpha_id @sonyalpha @ttartisan.id @ttartisanofficial

#visualstoryteller #visualstorytelling #manado


1.2K
17
1 years ago

Tiap kali akan mendarat di kota Manado, kita akan mendapatkan sajian pemandangan pesisir pantai yang dihiasi dengan gunung Manado Tua dan perbukitan yang seakan memagari kota itu.

Sesekali kalau langit cerah, kita juga bisa menyaksikan matahari terbit, karena biasanya rute penerbangan menuju ke Manado ditempuh sejak dini hari.

Manado tidak bisa dipisahkan dari laut, karena kota itu punya garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Selain gunung atau pulau Manado Tua, di sekitar perairan Manado juga terdapat pulau Bunaken dan pulau Siladen.

Tidak hanya itu, di Manado aku bisa memuaskan seleraku untuk menyantap beragam hidangan hasil laut dengan bumbu dan rempah khas Minahasa yang bikin nagih!!

Menikmati pemandangan dan juga kuliner di kota Manado bisa dilakukan salah satunya di Kawasan Megamas yang terletak di Kecamatan Wenang. Nama Wenang merupakan cikal bakal kota Manado, yang pada tahun 1682 nama tersebut diganti menjadi Manado oleh bangsa Spanyol (Prof. Geraldine Manoppo-Watupongoh).

Sebuah kawasan reklamasi pantai seluas 36 hektar, yang mulai direklamasi sejak tahun 1996 dan mulai dikembangkan sejak tahun 2000-an. Sepertinya lokasi tersebut menjadi semacam alun-alun bagi warga kota Manado. Karena di Kawasan Megamas, terdapat pelbagai sarana perbelanjaan, sarana hiburan, pusat kuliner, hotel-hotel, dll.

Dan kali ini, aku beruntung karena bisa punya kesempatan untuk nyetrit di kawasan ini. Menikmati tidak hanya kulinernya, hangatnya matahari terbit dan teduhnya matahari terbenam, tapi aku juga bisa menikmati cerita-cerita yang ada di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

📸 Sony A7R V + TTArtisan 35mm f1.4

@sonyalpha_id @sonyalpha @ttartisan.id @ttartisanofficial

#visualstoryteller #visualstorytelling #manado


1.2K
17
1 years ago

Tiap kali akan mendarat di kota Manado, kita akan mendapatkan sajian pemandangan pesisir pantai yang dihiasi dengan gunung Manado Tua dan perbukitan yang seakan memagari kota itu.

Sesekali kalau langit cerah, kita juga bisa menyaksikan matahari terbit, karena biasanya rute penerbangan menuju ke Manado ditempuh sejak dini hari.

Manado tidak bisa dipisahkan dari laut, karena kota itu punya garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Selain gunung atau pulau Manado Tua, di sekitar perairan Manado juga terdapat pulau Bunaken dan pulau Siladen.

Tidak hanya itu, di Manado aku bisa memuaskan seleraku untuk menyantap beragam hidangan hasil laut dengan bumbu dan rempah khas Minahasa yang bikin nagih!!

Menikmati pemandangan dan juga kuliner di kota Manado bisa dilakukan salah satunya di Kawasan Megamas yang terletak di Kecamatan Wenang. Nama Wenang merupakan cikal bakal kota Manado, yang pada tahun 1682 nama tersebut diganti menjadi Manado oleh bangsa Spanyol (Prof. Geraldine Manoppo-Watupongoh).

Sebuah kawasan reklamasi pantai seluas 36 hektar, yang mulai direklamasi sejak tahun 1996 dan mulai dikembangkan sejak tahun 2000-an. Sepertinya lokasi tersebut menjadi semacam alun-alun bagi warga kota Manado. Karena di Kawasan Megamas, terdapat pelbagai sarana perbelanjaan, sarana hiburan, pusat kuliner, hotel-hotel, dll.

Dan kali ini, aku beruntung karena bisa punya kesempatan untuk nyetrit di kawasan ini. Menikmati tidak hanya kulinernya, hangatnya matahari terbit dan teduhnya matahari terbenam, tapi aku juga bisa menikmati cerita-cerita yang ada di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

📸 Sony A7R V + TTArtisan 35mm f1.4

@sonyalpha_id @sonyalpha @ttartisan.id @ttartisanofficial

#visualstoryteller #visualstorytelling #manado


1.2K
17
1 years ago

Tiap kali akan mendarat di kota Manado, kita akan mendapatkan sajian pemandangan pesisir pantai yang dihiasi dengan gunung Manado Tua dan perbukitan yang seakan memagari kota itu.

Sesekali kalau langit cerah, kita juga bisa menyaksikan matahari terbit, karena biasanya rute penerbangan menuju ke Manado ditempuh sejak dini hari.

Manado tidak bisa dipisahkan dari laut, karena kota itu punya garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Selain gunung atau pulau Manado Tua, di sekitar perairan Manado juga terdapat pulau Bunaken dan pulau Siladen.

Tidak hanya itu, di Manado aku bisa memuaskan seleraku untuk menyantap beragam hidangan hasil laut dengan bumbu dan rempah khas Minahasa yang bikin nagih!!

Menikmati pemandangan dan juga kuliner di kota Manado bisa dilakukan salah satunya di Kawasan Megamas yang terletak di Kecamatan Wenang. Nama Wenang merupakan cikal bakal kota Manado, yang pada tahun 1682 nama tersebut diganti menjadi Manado oleh bangsa Spanyol (Prof. Geraldine Manoppo-Watupongoh).

Sebuah kawasan reklamasi pantai seluas 36 hektar, yang mulai direklamasi sejak tahun 1996 dan mulai dikembangkan sejak tahun 2000-an. Sepertinya lokasi tersebut menjadi semacam alun-alun bagi warga kota Manado. Karena di Kawasan Megamas, terdapat pelbagai sarana perbelanjaan, sarana hiburan, pusat kuliner, hotel-hotel, dll.

Dan kali ini, aku beruntung karena bisa punya kesempatan untuk nyetrit di kawasan ini. Menikmati tidak hanya kulinernya, hangatnya matahari terbit dan teduhnya matahari terbenam, tapi aku juga bisa menikmati cerita-cerita yang ada di Manado.

Ceritanya aku sambung di unggahan selanjutnya.

📸 Sony A7R V + TTArtisan 35mm f1.4

@sonyalpha_id @sonyalpha @ttartisan.id @ttartisanofficial

#visualstoryteller #visualstorytelling #manado


1.2K
17
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

“Kita so sebelas tahun jahit di sini. Dulu kita belajar jahit di SMK Madrasah.”

Ujar Nuraini (41), seorang penjahit di kawasan Pasar 45 kota Manado. Selain di situ, dia juga punya usaha jahit serupa di rumahnya. Tapi dia lebih sering menjajakan jasanya di pasar itu.

Sabtu (25/1), aku iseng nyetrit di sekitar kota Manado. Karena biasanya kunjunganku ke Sulawesi Utara selalu dalam rangka penugasan industrial atau ekspedisi, dan sudah tentu objek dan subjek apa yang harus aku potret sudah ditentukan sebelumnya, jadi tidak “sebebas” ketika sedang nyetrit sendiri.

Namun kali ini berbeda, aku bisa berkenalan dan mendengar banyak cerita di sudut-sudut kota ini. Salah satunya dari Nuraini dan saudara/i para penjahit di pasar itu, walau hari itu Manado lumayan hujan deras sekali.

Nuraini menyewa lapak itu sekitar 25 ribu per meternya per hari. Biaya itu merupakan setoran wajib dan resmi yang dipungut oleh PD Pasar Kota Manado dari para penjahit di sana. Besaran biaya tentu berbeda untuk setiap penyewa, sesuai dengan jenis dan luasnya lapak yang disewa.

Masih menurut informasi dari Aini, mayoritas penjahit di pasar itu adalah para pendatang di kota Manado dan sebagian besar berasal dari Gorontalo.

Masa-masa panen untuk mereka lazimnya terjadi pada perayaan besar keagamaan di Manado, seperti Natal dan Idul Fitri. Di saat-saat seperti itu, pendapatan para penjahit di sana bisa mencapai 4 kali lipat dari hari biasa, namun sayangnya Aini agak enggan untuk menyebutkan angkanya.

Seperti di tempat-tempat lainnya, aku bisa banyak belajar dari dinamika kehidupan di pasar yang merupakan denyut nadi sebenarnya sebuah peradaban, karena di sana sajian cerita demi cerita disuguhkan dengan apik dan apa adanya.

#visualstorytelling #visualstoryteller


362
5
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

14++ dan banyak hari lainnya
Kaki gunung Lokon jadi taman bermain
Day for night for day, apa itu istirahat
Batuk, meriang, demam ? Bole.
Mati ? Not today bro.
Setan diketawain, diketawain setan, untungnya gak
Senang, sedih, marah, ngakak, lapar, aus, kenyang, bego
Produksi asupan produksi, teriak di ht yg low bat.
Temen" kita take ya, diam semuaaa jangan ada yg gerak" and action.
Cek file, file's good, thankyou dan itulah 14++ dan banyak hari lainnya itu

Ladies and gentleman
Please welcome "Rombongan Sirkus" 🤡🎉

#songkothemovie#itsawrap


164
20
1 years ago

aging or age·ing [ ey-jing ]
noun :
1.the process of becoming old or older:
The aging of the population has had an effect on state revenues.
2.the process of bringing a product, material, etc., to maturity or a state fit for use:
the proper aging of cheese in controlled conditions of temperature and humidity.
3.the process of making something seem older than it is:
The leather tabletop is a recent replacement with deliberate aging and antiquing.


106
1
1 years ago

aging or age·ing [ ey-jing ]
noun :
1.the process of becoming old or older:
The aging of the population has had an effect on state revenues.
2.the process of bringing a product, material, etc., to maturity or a state fit for use:
the proper aging of cheese in controlled conditions of temperature and humidity.
3.the process of making something seem older than it is:
The leather tabletop is a recent replacement with deliberate aging and antiquing.


106
1
1 years ago

aging or age·ing [ ey-jing ]
noun :
1.the process of becoming old or older:
The aging of the population has had an effect on state revenues.
2.the process of bringing a product, material, etc., to maturity or a state fit for use:
the proper aging of cheese in controlled conditions of temperature and humidity.
3.the process of making something seem older than it is:
The leather tabletop is a recent replacement with deliberate aging and antiquing.


106
1
1 years ago

aging or age·ing [ ey-jing ]
noun :
1.the process of becoming old or older:
The aging of the population has had an effect on state revenues.
2.the process of bringing a product, material, etc., to maturity or a state fit for use:
the proper aging of cheese in controlled conditions of temperature and humidity.
3.the process of making something seem older than it is:
The leather tabletop is a recent replacement with deliberate aging and antiquing.


106
1
1 years ago

aging or age·ing [ ey-jing ]
noun :
1.the process of becoming old or older:
The aging of the population has had an effect on state revenues.
2.the process of bringing a product, material, etc., to maturity or a state fit for use:
the proper aging of cheese in controlled conditions of temperature and humidity.
3.the process of making something seem older than it is:
The leather tabletop is a recent replacement with deliberate aging and antiquing.


106
1
1 years ago

aging or age·ing [ ey-jing ]
noun :
1.the process of becoming old or older:
The aging of the population has had an effect on state revenues.
2.the process of bringing a product, material, etc., to maturity or a state fit for use:
the proper aging of cheese in controlled conditions of temperature and humidity.
3.the process of making something seem older than it is:
The leather tabletop is a recent replacement with deliberate aging and antiquing.


106
1
1 years ago

so few.so proud.so emotional
#helloclancy


91
3
1 years ago

so few.so proud.so emotional
#helloclancy


91
3
1 years ago

so few.so proud.so emotional
#helloclancy


91
3
1 years ago

so few.so proud.so emotional
#helloclancy


91
3
1 years ago

so few.so proud.so emotional
#helloclancy


91
3
1 years ago

so few.so proud.so emotional
#helloclancy


91
3
1 years ago

so few.so proud.so emotional
#helloclancy


91
3
1 years ago

so few.so proud.so emotional
#helloclancy


91
3
1 years ago

so few.so proud.so emotional
#helloclancy


91
3
1 years ago


Story Save - Best free tool for saving Stories, Reels, Photos, Videos, Highlights, IGTV to your phone.

Story-save.com is an intuitive online tool that enables users to download and save a variety of content, including stories, photos, videos, and IGTV materials, directly from Instagram. With Story-Save, you can not only easily download diverse content from Instagram but also view it at your convenience, even without internet access. This tool is perfect for those moments when you come across something interesting on Instagram and want to save it for later viewing. Use Story-Save to ensure you don't miss the chance to take your favorite Instagram moments with you!

Our advantages:

No Need to Register

Avoid app downloads and sign-ups, store stories on the web.

Exclusive High-Quality

Stories Say goodbye to poor-quality content, preserve only high-resolution Stories.

Accessible on All

Devices Download Instagram Stories using any browser, iPhone, Android.

Completely Free to Use

Absolutely no fees. Download any Story at no cost.

Frequently Asked Questions

The Instagram Stories Download feature is designed to provide a secure and high-quality method for downloading Instagram stories. It's user-friendly and doesn't require users to register or sign up. Simply copy the link, paste it, and enjoy the content.
Downloading Instagram stories is a simple process that involves three steps:
  • 1. Go to the Instagram Story Downloader tool.
  • 2. Next, type the username of the Instagram profile into the provided field and click on the Download button.
  • 3. You'll then see all the Stories that are available for the current 24-hour period. Select the ones you want and hit Download.
The selected story will be swiftly saved to your device's local storage.
Unfortunately, it is not possible to download stories from private accounts due to privacy restrictions.
There is no limit to the number of times you can use the Instagram story download service. It's available for unlimited use and is completely free.
Yes, it is legal to download and save Instagram Stories from other users, provided they are not used for commercial purposes. If you intend to use them commercially, you must obtain permission from the original content owner and credit them each time the story is used.
All downloaded stories are typically saved in the Downloads folder on your computer, whether you're using Windows, Mac, or iOS. For mobile devices, the stories are saved in the phone's storage and should also appear in your Gallery app immediately after download.