Emotional State tersebut adalah bentuk usaha kita sebagai manusia untuk nyimpen ‘rasa’ di tempat yang sama, meskipun waktu berjalan terus.
Kalau dibawa ke psikologi, ini disebut anchoring. Konsep yang dibahas sama Daniel Kahneman. Intinya simpel sih: Otak kita tuh jarang banget memulai sesuatu dari nol. Otak kita selalu butuh “titik awal” untuk ngebawa semua penilaian atau perasaan kita.
Awalnya sih konsep ini dipake untuk hal yang lebih rasional (kayak pengambilan keputusan misalnya), tapi pas masuk ke kehidupan sehari-hari, bentuknya jadi jauh lebih personal.
Contoh paling gampang adalah; lagu.
Lo pasti pernah punya satu lagu yang dulu sering banget lo dengerin, trus pas lo denger lagi sekarang, rasanya kayak tiba-tiba balik jadi versi diri lo yang dulu. Perasaannya ikut keangkat, suasananya ikut kebawa, bahkan hal-hal yang lo pikir udah lewat, ternyata masih ada.
Contoh lain? Tempat.
Ada tempat yang sebenernya biasa aja, tapi karena pernah ada kejadian di sana, tiap lo lewat rasanya beda (kayak ada sesuatu yang “nempel”, padahal secara logika ya, gak ada apa-apa).
Secara ilmiah ini nyambung ke conditioning (yang diteliti sama Ivan Pavlov). Intinya kalau satu hal terus menerus muncul bareng emosi tertentu, lama-lama otak kita nge-link keduanya. Akhirnya ketika salah satu yang muncul, yang lain langsung ikut nyala.
Kadang ini cara halus otak kita aja supaya kita gak benar-benar move on. Karena yang kita simpen itu bukan orangnya, bukan momennya, tapi rasanya.
Dan selama rasa itu masih ke-anchor ke sesuatu (lagu, tempat, kata-kata), kita akan selalu punya jalan buat balik lagi walaupun kita bilang ke diri sendiri, “Ah, udah lewat”.
Bahayanya, Anchoring ini keliatannya indah. Kayak, “gue masih inget”, “gue masih ngerasain”, dll. Kedengerannya tuh dalem dan tulus.
Padahal bisa jadi itu juga yang bikin kita gak pernah bener-bener jalan ke depan. Gak pernah bener-bener move on.
Jadi, kalo lo di fase ini, mungkin pertanyaannya bukan soal, "Gimana dong caranya biar gue bisa lupa dan move on?”
Tapi …
“Apa yang sebenarnya belum bisa gue lepasin, sampai harus gue simpen terus di tempat yang sama?”
#Anchoring
Perlu dibikin versi negara lain gak ya?
Semua foto di-develop dan di-scan oleh @ojisanfilmlab.jkt

Mungkin lo pernah bermimpi jadi pilot, astronaut, atau bahkan presiden? Bukan gak mungkin sih, yang katanya gak mau jadi presiden aja sekarang jadi wapres 👀 (Halo Mas @gibran_rakabuming)
Kalo gue, dari waktu masih sekolah tuh pengen banget jadi penulis. Mimpi ini muncul setelah gue selesai baca novelnya @afuadi di tahun 2010 (Novelnya worth to read sampai sekarang!).
Di antara mimpi yang lain, yang menarik dari menjadi penulis bagi gue saat itu adalah ngebayangin bahwa apa yang kita tulis bisa membuat orang merasakan sesuatu. Isn’t that amazing?
Fast forward ke sekarang, di mana menulis udah bukan jadi rutinitas gue. Mimpi itu hampir mati, karena seperti yang kita tau, siapa yang masih baca buku sih zaman sekarang? Wapres kita masih sih meskipun bacanya komik, hehe, gapapa.
Sampai tahun lalu, gue disarankan oleh @zamfarhad untuk ikut kontribusi di project bukunya PPI Denmark. Meski awalnya agak canggung, niat gue disambut baik oleh @firdausyalif6 dan @dekavvv selaku editornya, lalu akhirnya gue jalani aja sepenuh hati.
Ada perasaan aneh di tengah prosesnya, yang asumsi gue kayaknya ini karena mimpi yang hampir mati akhirnya ‘dibangunkan’ lagi oleh satu kesempatan yang bahkan gue gak pernah nyangka akan datang juga.
Belakangan ini, gue dihantui oleh momen-momen yang gue habiskan bukan untuk mengejar mimpi itu. Sampai gue mikir, ngapain aja sih selama ini?
Sampai akhirnya buku ini terbit, tepat 15 tahun setelah mimpi jadi penulis itu muncul di dalam diri gue, rasanya campur aduk banget.
Gue bersyukur tumbuh sebagai seorang pemimpi. Bahkan bukan hanya itu, gue adalah seorang pemimpi yang sangat detail. Saking detailnya, gue bisa jabarkan proses-proses yang harus dilewati menuju mimpi itu. Dan buku ini adalah salah satu manifestasinya.
Karya bersama teman-teman @ppi_denmark ini, mungkin bisa berarti suatu hal untuk tiap penulisnya. Tapi bagi gue, ini bukan hanya ‘akhirnya gue nulis buku’. Lebih dari itu, karya ini pengingat bahwa ternyata mimpi gak bisa mati, dia cuma nunggu waktu.
Pertanyaannya, ketika mimpi itu datang lagi, lo masih berani ngejar gak?
Mungkin lo pernah bermimpi jadi pilot, astronaut, atau bahkan presiden? Bukan gak mungkin sih, yang katanya gak mau jadi presiden aja sekarang jadi wapres 👀 (Halo Mas @gibran_rakabuming)
Kalo gue, dari waktu masih sekolah tuh pengen banget jadi penulis. Mimpi ini muncul setelah gue selesai baca novelnya @afuadi di tahun 2010 (Novelnya worth to read sampai sekarang!).
Di antara mimpi yang lain, yang menarik dari menjadi penulis bagi gue saat itu adalah ngebayangin bahwa apa yang kita tulis bisa membuat orang merasakan sesuatu. Isn’t that amazing?
Fast forward ke sekarang, di mana menulis udah bukan jadi rutinitas gue. Mimpi itu hampir mati, karena seperti yang kita tau, siapa yang masih baca buku sih zaman sekarang? Wapres kita masih sih meskipun bacanya komik, hehe, gapapa.
Sampai tahun lalu, gue disarankan oleh @zamfarhad untuk ikut kontribusi di project bukunya PPI Denmark. Meski awalnya agak canggung, niat gue disambut baik oleh @firdausyalif6 dan @dekavvv selaku editornya, lalu akhirnya gue jalani aja sepenuh hati.
Ada perasaan aneh di tengah prosesnya, yang asumsi gue kayaknya ini karena mimpi yang hampir mati akhirnya ‘dibangunkan’ lagi oleh satu kesempatan yang bahkan gue gak pernah nyangka akan datang juga.
Belakangan ini, gue dihantui oleh momen-momen yang gue habiskan bukan untuk mengejar mimpi itu. Sampai gue mikir, ngapain aja sih selama ini?
Sampai akhirnya buku ini terbit, tepat 15 tahun setelah mimpi jadi penulis itu muncul di dalam diri gue, rasanya campur aduk banget.
Gue bersyukur tumbuh sebagai seorang pemimpi. Bahkan bukan hanya itu, gue adalah seorang pemimpi yang sangat detail. Saking detailnya, gue bisa jabarkan proses-proses yang harus dilewati menuju mimpi itu. Dan buku ini adalah salah satu manifestasinya.
Karya bersama teman-teman @ppi_denmark ini, mungkin bisa berarti suatu hal untuk tiap penulisnya. Tapi bagi gue, ini bukan hanya ‘akhirnya gue nulis buku’. Lebih dari itu, karya ini pengingat bahwa ternyata mimpi gak bisa mati, dia cuma nunggu waktu.
Pertanyaannya, ketika mimpi itu datang lagi, lo masih berani ngejar gak?
Mungkin lo pernah bermimpi jadi pilot, astronaut, atau bahkan presiden? Bukan gak mungkin sih, yang katanya gak mau jadi presiden aja sekarang jadi wapres 👀 (Halo Mas @gibran_rakabuming)
Kalo gue, dari waktu masih sekolah tuh pengen banget jadi penulis. Mimpi ini muncul setelah gue selesai baca novelnya @afuadi di tahun 2010 (Novelnya worth to read sampai sekarang!).
Di antara mimpi yang lain, yang menarik dari menjadi penulis bagi gue saat itu adalah ngebayangin bahwa apa yang kita tulis bisa membuat orang merasakan sesuatu. Isn’t that amazing?
Fast forward ke sekarang, di mana menulis udah bukan jadi rutinitas gue. Mimpi itu hampir mati, karena seperti yang kita tau, siapa yang masih baca buku sih zaman sekarang? Wapres kita masih sih meskipun bacanya komik, hehe, gapapa.
Sampai tahun lalu, gue disarankan oleh @zamfarhad untuk ikut kontribusi di project bukunya PPI Denmark. Meski awalnya agak canggung, niat gue disambut baik oleh @firdausyalif6 dan @dekavvv selaku editornya, lalu akhirnya gue jalani aja sepenuh hati.
Ada perasaan aneh di tengah prosesnya, yang asumsi gue kayaknya ini karena mimpi yang hampir mati akhirnya ‘dibangunkan’ lagi oleh satu kesempatan yang bahkan gue gak pernah nyangka akan datang juga.
Belakangan ini, gue dihantui oleh momen-momen yang gue habiskan bukan untuk mengejar mimpi itu. Sampai gue mikir, ngapain aja sih selama ini?
Sampai akhirnya buku ini terbit, tepat 15 tahun setelah mimpi jadi penulis itu muncul di dalam diri gue, rasanya campur aduk banget.
Gue bersyukur tumbuh sebagai seorang pemimpi. Bahkan bukan hanya itu, gue adalah seorang pemimpi yang sangat detail. Saking detailnya, gue bisa jabarkan proses-proses yang harus dilewati menuju mimpi itu. Dan buku ini adalah salah satu manifestasinya.
Karya bersama teman-teman @ppi_denmark ini, mungkin bisa berarti suatu hal untuk tiap penulisnya. Tapi bagi gue, ini bukan hanya ‘akhirnya gue nulis buku’. Lebih dari itu, karya ini pengingat bahwa ternyata mimpi gak bisa mati, dia cuma nunggu waktu.
Pertanyaannya, ketika mimpi itu datang lagi, lo masih berani ngejar gak?

Mungkin lo pernah bermimpi jadi pilot, astronaut, atau bahkan presiden? Bukan gak mungkin sih, yang katanya gak mau jadi presiden aja sekarang jadi wapres 👀 (Halo Mas @gibran_rakabuming)
Kalo gue, dari waktu masih sekolah tuh pengen banget jadi penulis. Mimpi ini muncul setelah gue selesai baca novelnya @afuadi di tahun 2010 (Novelnya worth to read sampai sekarang!).
Di antara mimpi yang lain, yang menarik dari menjadi penulis bagi gue saat itu adalah ngebayangin bahwa apa yang kita tulis bisa membuat orang merasakan sesuatu. Isn’t that amazing?
Fast forward ke sekarang, di mana menulis udah bukan jadi rutinitas gue. Mimpi itu hampir mati, karena seperti yang kita tau, siapa yang masih baca buku sih zaman sekarang? Wapres kita masih sih meskipun bacanya komik, hehe, gapapa.
Sampai tahun lalu, gue disarankan oleh @zamfarhad untuk ikut kontribusi di project bukunya PPI Denmark. Meski awalnya agak canggung, niat gue disambut baik oleh @firdausyalif6 dan @dekavvv selaku editornya, lalu akhirnya gue jalani aja sepenuh hati.
Ada perasaan aneh di tengah prosesnya, yang asumsi gue kayaknya ini karena mimpi yang hampir mati akhirnya ‘dibangunkan’ lagi oleh satu kesempatan yang bahkan gue gak pernah nyangka akan datang juga.
Belakangan ini, gue dihantui oleh momen-momen yang gue habiskan bukan untuk mengejar mimpi itu. Sampai gue mikir, ngapain aja sih selama ini?
Sampai akhirnya buku ini terbit, tepat 15 tahun setelah mimpi jadi penulis itu muncul di dalam diri gue, rasanya campur aduk banget.
Gue bersyukur tumbuh sebagai seorang pemimpi. Bahkan bukan hanya itu, gue adalah seorang pemimpi yang sangat detail. Saking detailnya, gue bisa jabarkan proses-proses yang harus dilewati menuju mimpi itu. Dan buku ini adalah salah satu manifestasinya.
Karya bersama teman-teman @ppi_denmark ini, mungkin bisa berarti suatu hal untuk tiap penulisnya. Tapi bagi gue, ini bukan hanya ‘akhirnya gue nulis buku’. Lebih dari itu, karya ini pengingat bahwa ternyata mimpi gak bisa mati, dia cuma nunggu waktu.
Pertanyaannya, ketika mimpi itu datang lagi, lo masih berani ngejar gak?

Mungkin lo pernah bermimpi jadi pilot, astronaut, atau bahkan presiden? Bukan gak mungkin sih, yang katanya gak mau jadi presiden aja sekarang jadi wapres 👀 (Halo Mas @gibran_rakabuming)
Kalo gue, dari waktu masih sekolah tuh pengen banget jadi penulis. Mimpi ini muncul setelah gue selesai baca novelnya @afuadi di tahun 2010 (Novelnya worth to read sampai sekarang!).
Di antara mimpi yang lain, yang menarik dari menjadi penulis bagi gue saat itu adalah ngebayangin bahwa apa yang kita tulis bisa membuat orang merasakan sesuatu. Isn’t that amazing?
Fast forward ke sekarang, di mana menulis udah bukan jadi rutinitas gue. Mimpi itu hampir mati, karena seperti yang kita tau, siapa yang masih baca buku sih zaman sekarang? Wapres kita masih sih meskipun bacanya komik, hehe, gapapa.
Sampai tahun lalu, gue disarankan oleh @zamfarhad untuk ikut kontribusi di project bukunya PPI Denmark. Meski awalnya agak canggung, niat gue disambut baik oleh @firdausyalif6 dan @dekavvv selaku editornya, lalu akhirnya gue jalani aja sepenuh hati.
Ada perasaan aneh di tengah prosesnya, yang asumsi gue kayaknya ini karena mimpi yang hampir mati akhirnya ‘dibangunkan’ lagi oleh satu kesempatan yang bahkan gue gak pernah nyangka akan datang juga.
Belakangan ini, gue dihantui oleh momen-momen yang gue habiskan bukan untuk mengejar mimpi itu. Sampai gue mikir, ngapain aja sih selama ini?
Sampai akhirnya buku ini terbit, tepat 15 tahun setelah mimpi jadi penulis itu muncul di dalam diri gue, rasanya campur aduk banget.
Gue bersyukur tumbuh sebagai seorang pemimpi. Bahkan bukan hanya itu, gue adalah seorang pemimpi yang sangat detail. Saking detailnya, gue bisa jabarkan proses-proses yang harus dilewati menuju mimpi itu. Dan buku ini adalah salah satu manifestasinya.
Karya bersama teman-teman @ppi_denmark ini, mungkin bisa berarti suatu hal untuk tiap penulisnya. Tapi bagi gue, ini bukan hanya ‘akhirnya gue nulis buku’. Lebih dari itu, karya ini pengingat bahwa ternyata mimpi gak bisa mati, dia cuma nunggu waktu.
Pertanyaannya, ketika mimpi itu datang lagi, lo masih berani ngejar gak?

Mungkin lo pernah bermimpi jadi pilot, astronaut, atau bahkan presiden? Bukan gak mungkin sih, yang katanya gak mau jadi presiden aja sekarang jadi wapres 👀 (Halo Mas @gibran_rakabuming)
Kalo gue, dari waktu masih sekolah tuh pengen banget jadi penulis. Mimpi ini muncul setelah gue selesai baca novelnya @afuadi di tahun 2010 (Novelnya worth to read sampai sekarang!).
Di antara mimpi yang lain, yang menarik dari menjadi penulis bagi gue saat itu adalah ngebayangin bahwa apa yang kita tulis bisa membuat orang merasakan sesuatu. Isn’t that amazing?
Fast forward ke sekarang, di mana menulis udah bukan jadi rutinitas gue. Mimpi itu hampir mati, karena seperti yang kita tau, siapa yang masih baca buku sih zaman sekarang? Wapres kita masih sih meskipun bacanya komik, hehe, gapapa.
Sampai tahun lalu, gue disarankan oleh @zamfarhad untuk ikut kontribusi di project bukunya PPI Denmark. Meski awalnya agak canggung, niat gue disambut baik oleh @firdausyalif6 dan @dekavvv selaku editornya, lalu akhirnya gue jalani aja sepenuh hati.
Ada perasaan aneh di tengah prosesnya, yang asumsi gue kayaknya ini karena mimpi yang hampir mati akhirnya ‘dibangunkan’ lagi oleh satu kesempatan yang bahkan gue gak pernah nyangka akan datang juga.
Belakangan ini, gue dihantui oleh momen-momen yang gue habiskan bukan untuk mengejar mimpi itu. Sampai gue mikir, ngapain aja sih selama ini?
Sampai akhirnya buku ini terbit, tepat 15 tahun setelah mimpi jadi penulis itu muncul di dalam diri gue, rasanya campur aduk banget.
Gue bersyukur tumbuh sebagai seorang pemimpi. Bahkan bukan hanya itu, gue adalah seorang pemimpi yang sangat detail. Saking detailnya, gue bisa jabarkan proses-proses yang harus dilewati menuju mimpi itu. Dan buku ini adalah salah satu manifestasinya.
Karya bersama teman-teman @ppi_denmark ini, mungkin bisa berarti suatu hal untuk tiap penulisnya. Tapi bagi gue, ini bukan hanya ‘akhirnya gue nulis buku’. Lebih dari itu, karya ini pengingat bahwa ternyata mimpi gak bisa mati, dia cuma nunggu waktu.
Pertanyaannya, ketika mimpi itu datang lagi, lo masih berani ngejar gak?

Di banyak karya tentang perang, POV-nya selalu siapa yang menang dan kalah. Tapi hampir jarang gue liat karya yang pakai POV orang yang ditingal perang.
Padahal bukankah perjuangannya sama sakitnya?
Itu kenapa di slide akhir, tepat setelah gue mengelilingi dan menyelami karya tentang sejarah perang, gue merespon dengan bikin karya kecil tentang perasaan orang yang ditinggal perang.
Gue selipkan karya itu di dekat pintu keluar pameran tetap @galerinasional, yang harapannya kalo lo ke sana, semoga lo bisa liat karya itu langsung. Semoga ya hehe 🙏🏻

Di banyak karya tentang perang, POV-nya selalu siapa yang menang dan kalah. Tapi hampir jarang gue liat karya yang pakai POV orang yang ditingal perang.
Padahal bukankah perjuangannya sama sakitnya?
Itu kenapa di slide akhir, tepat setelah gue mengelilingi dan menyelami karya tentang sejarah perang, gue merespon dengan bikin karya kecil tentang perasaan orang yang ditinggal perang.
Gue selipkan karya itu di dekat pintu keluar pameran tetap @galerinasional, yang harapannya kalo lo ke sana, semoga lo bisa liat karya itu langsung. Semoga ya hehe 🙏🏻

Di banyak karya tentang perang, POV-nya selalu siapa yang menang dan kalah. Tapi hampir jarang gue liat karya yang pakai POV orang yang ditingal perang.
Padahal bukankah perjuangannya sama sakitnya?
Itu kenapa di slide akhir, tepat setelah gue mengelilingi dan menyelami karya tentang sejarah perang, gue merespon dengan bikin karya kecil tentang perasaan orang yang ditinggal perang.
Gue selipkan karya itu di dekat pintu keluar pameran tetap @galerinasional, yang harapannya kalo lo ke sana, semoga lo bisa liat karya itu langsung. Semoga ya hehe 🙏🏻

Di banyak karya tentang perang, POV-nya selalu siapa yang menang dan kalah. Tapi hampir jarang gue liat karya yang pakai POV orang yang ditingal perang.
Padahal bukankah perjuangannya sama sakitnya?
Itu kenapa di slide akhir, tepat setelah gue mengelilingi dan menyelami karya tentang sejarah perang, gue merespon dengan bikin karya kecil tentang perasaan orang yang ditinggal perang.
Gue selipkan karya itu di dekat pintu keluar pameran tetap @galerinasional, yang harapannya kalo lo ke sana, semoga lo bisa liat karya itu langsung. Semoga ya hehe 🙏🏻
Di banyak karya tentang perang, POV-nya selalu siapa yang menang dan kalah. Tapi hampir jarang gue liat karya yang pakai POV orang yang ditingal perang.
Padahal bukankah perjuangannya sama sakitnya?
Itu kenapa di slide akhir, tepat setelah gue mengelilingi dan menyelami karya tentang sejarah perang, gue merespon dengan bikin karya kecil tentang perasaan orang yang ditinggal perang.
Gue selipkan karya itu di dekat pintu keluar pameran tetap @galerinasional, yang harapannya kalo lo ke sana, semoga lo bisa liat karya itu langsung. Semoga ya hehe 🙏🏻

Di banyak karya tentang perang, POV-nya selalu siapa yang menang dan kalah. Tapi hampir jarang gue liat karya yang pakai POV orang yang ditingal perang.
Padahal bukankah perjuangannya sama sakitnya?
Itu kenapa di slide akhir, tepat setelah gue mengelilingi dan menyelami karya tentang sejarah perang, gue merespon dengan bikin karya kecil tentang perasaan orang yang ditinggal perang.
Gue selipkan karya itu di dekat pintu keluar pameran tetap @galerinasional, yang harapannya kalo lo ke sana, semoga lo bisa liat karya itu langsung. Semoga ya hehe 🙏🏻

Di banyak karya tentang perang, POV-nya selalu siapa yang menang dan kalah. Tapi hampir jarang gue liat karya yang pakai POV orang yang ditingal perang.
Padahal bukankah perjuangannya sama sakitnya?
Itu kenapa di slide akhir, tepat setelah gue mengelilingi dan menyelami karya tentang sejarah perang, gue merespon dengan bikin karya kecil tentang perasaan orang yang ditinggal perang.
Gue selipkan karya itu di dekat pintu keluar pameran tetap @galerinasional, yang harapannya kalo lo ke sana, semoga lo bisa liat karya itu langsung. Semoga ya hehe 🙏🏻

Di banyak karya tentang perang, POV-nya selalu siapa yang menang dan kalah. Tapi hampir jarang gue liat karya yang pakai POV orang yang ditingal perang.
Padahal bukankah perjuangannya sama sakitnya?
Itu kenapa di slide akhir, tepat setelah gue mengelilingi dan menyelami karya tentang sejarah perang, gue merespon dengan bikin karya kecil tentang perasaan orang yang ditinggal perang.
Gue selipkan karya itu di dekat pintu keluar pameran tetap @galerinasional, yang harapannya kalo lo ke sana, semoga lo bisa liat karya itu langsung. Semoga ya hehe 🙏🏻

Di banyak karya tentang perang, POV-nya selalu siapa yang menang dan kalah. Tapi hampir jarang gue liat karya yang pakai POV orang yang ditingal perang.
Padahal bukankah perjuangannya sama sakitnya?
Itu kenapa di slide akhir, tepat setelah gue mengelilingi dan menyelami karya tentang sejarah perang, gue merespon dengan bikin karya kecil tentang perasaan orang yang ditinggal perang.
Gue selipkan karya itu di dekat pintu keluar pameran tetap @galerinasional, yang harapannya kalo lo ke sana, semoga lo bisa liat karya itu langsung. Semoga ya hehe 🙏🏻

Di banyak karya tentang perang, POV-nya selalu siapa yang menang dan kalah. Tapi hampir jarang gue liat karya yang pakai POV orang yang ditingal perang.
Padahal bukankah perjuangannya sama sakitnya?
Itu kenapa di slide akhir, tepat setelah gue mengelilingi dan menyelami karya tentang sejarah perang, gue merespon dengan bikin karya kecil tentang perasaan orang yang ditinggal perang.
Gue selipkan karya itu di dekat pintu keluar pameran tetap @galerinasional, yang harapannya kalo lo ke sana, semoga lo bisa liat karya itu langsung. Semoga ya hehe 🙏🏻

Di banyak karya tentang perang, POV-nya selalu siapa yang menang dan kalah. Tapi hampir jarang gue liat karya yang pakai POV orang yang ditingal perang.
Padahal bukankah perjuangannya sama sakitnya?
Itu kenapa di slide akhir, tepat setelah gue mengelilingi dan menyelami karya tentang sejarah perang, gue merespon dengan bikin karya kecil tentang perasaan orang yang ditinggal perang.
Gue selipkan karya itu di dekat pintu keluar pameran tetap @galerinasional, yang harapannya kalo lo ke sana, semoga lo bisa liat karya itu langsung. Semoga ya hehe 🙏🏻

Di banyak karya tentang perang, POV-nya selalu siapa yang menang dan kalah. Tapi hampir jarang gue liat karya yang pakai POV orang yang ditingal perang.
Padahal bukankah perjuangannya sama sakitnya?
Itu kenapa di slide akhir, tepat setelah gue mengelilingi dan menyelami karya tentang sejarah perang, gue merespon dengan bikin karya kecil tentang perasaan orang yang ditinggal perang.
Gue selipkan karya itu di dekat pintu keluar pameran tetap @galerinasional, yang harapannya kalo lo ke sana, semoga lo bisa liat karya itu langsung. Semoga ya hehe 🙏🏻
Story-save.com is an intuitive online tool that enables users to download and save a variety of content, including stories, photos, videos, and IGTV materials, directly from Instagram. With Story-Save, you can not only easily download diverse content from Instagram but also view it at your convenience, even without internet access. This tool is perfect for those moments when you come across something interesting on Instagram and want to save it for later viewing. Use Story-Save to ensure you don't miss the chance to take your favorite Instagram moments with you!
Avoid app downloads and sign-ups, store stories on the web.
Stories Say goodbye to poor-quality content, preserve only high-resolution Stories.
Devices Download Instagram Stories using any browser, iPhone, Android.
Absolutely no fees. Download any Story at no cost.